LANGIT7.ID-Pada suatu siang yang teduh di tengah gurun kekuasaan dan ambisi,
Timur Lenk kembali mengajak
Nasrudin Hoja berdiskusi soal dirinya—topik favorit sang penakluk dunia itu.
"Nasrudin!" seru Timur sambil membusungkan dada. "Kalau setiap benda di dunia ini ada harganya, menurutmu... berapakah hargaku?"
Tanpa menoleh, Nasrudin menjawab santai, seperti menjawab harga seekor ayam di pasar. "Saya taksir, sekitar seratus dinar saja."
Timur Lenk langsung tersentak. Nadanya meninggi, seperti kuda perangnya yang kaget disodok tombak.
"Keterlaluan kau ini! Apa kau tahu bahwa ikat pinggangku saja harganya sudah seratus dinar?"
Baca juga: Timur Lenk dan Raja-Raja di Surga: Humor Sufi ala Nasrudin Hoja Nasrudin menoleh dan mengangguk kalem. "Tepat sekali, Paduka. Memang yang saya nilai dari Anda hanya sebatas ikat pinggang itu saja."
Hikmah:
Harga sejati manusia tidak ditentukan oleh pakaian, jabatan, atau harta yang membungkusnya, tetapi oleh nilai jiwa dan amalnya. Dalam pandangan sufi, kehormatan bukan terletak pada kemegahan luar, tetapi pada keikhlasan dan keluhuran batin.
Seperti kata pepatah Timur: "Apa guna mahkota emas, jika isinya hanya kepala yang dipenuhi debu kesombongan?"
Baca juga: Gelar yang Pantas dari Nasrudin Hoja untuk Timur Lenk Sang Penakluk(mif)