home masjid

Kisah Humor Sufi: Gaya Memanah Nasrudin Hoja

Rabu, 25 Juni 2025 - 15:15 WIB
Nasrudin menunjukkan bahwa kecerdasan bukan sekadar soal logika, tapi juga cara menyelamatkan diri dari situasi sulit dengan keluwesan dan kelakar. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Suatu hari, Timur Lenk, penguasa besar yang lebih suka memecahkan masalah dengan kekuatan daripada kecerdasan, merasa ingin mempermalukan Nasrudin Hoja. Ia tahu bahwa Nasrudin dikenal luas karena kecerdasan dan kelincahannya dalam berdiplomasi, tapi kali ini Timur ingin menantangnya di ranah yang berbeda: kekuatan dan ketangkasan. Dunia prajurit, bukan dunia cendekia.

"Nasrudin," kata Timur Lenk sambil tertawa, "di hadapan para prajuritku ini, tunjukkanlah kemampuanmu memanah. Panahlah sekali saja. Kalau kau bisa mengenai sasaran, hadiah besar menantimu. Tapi kalau meleset, kau harus merangkak pulang ke rumahmu seperti cacing."

Para prajurit pun tertawa. Nasrudin, dengan wajah datar, menatap tajam ke arah sasaran. Dalam hatinya, ia tahu ini bukan sekadar ujian memanah, tapi juga ujian harga diri dan akal sehat. Dengan penuh keyakinan—atau mungkin pasrah—ia mengambil busur dan memasang anak panah.

Ia membidik, menarik tali busur, dan melepaskan anak panah. Panah melesat… dan jauh meleset dari sasaran. Tawa para prajurit meledak.

Baca juga: Kisah Humor Sufi Nasrudin Hoja: Harga Seorang Raja

Namun Nasrudin dengan tenang berkata lantang, "Demikianlah gaya Tuan Wazir memanah!"

Tawa pun berhenti sejenak, lalu meledak lagi. Nasrudin tak peduli. Ia memasang panah kedua, membidik, melepaskan... dan meleset lagi.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya