LANGIT7.ID-Suatu hari,
Timur Lenk, penguasa besar yang lebih suka memecahkan masalah dengan kekuatan daripada kecerdasan, merasa ingin mempermalukan
Nasrudin Hoja. Ia tahu bahwa Nasrudin dikenal luas karena kecerdasan dan kelincahannya dalam berdiplomasi, tapi kali ini Timur ingin menantangnya di ranah yang berbeda: kekuatan dan ketangkasan. Dunia prajurit, bukan dunia cendekia.
"Nasrudin," kata Timur Lenk sambil tertawa, "di hadapan para prajuritku ini, tunjukkanlah kemampuanmu memanah. Panahlah sekali saja. Kalau kau bisa mengenai sasaran, hadiah besar menantimu. Tapi kalau meleset, kau harus merangkak pulang ke rumahmu seperti cacing."
Para prajurit pun tertawa. Nasrudin, dengan wajah datar, menatap tajam ke arah sasaran. Dalam hatinya, ia tahu ini bukan sekadar ujian memanah, tapi juga ujian harga diri dan akal sehat. Dengan penuh keyakinan—atau mungkin pasrah—ia mengambil busur dan memasang anak panah.
Ia membidik, menarik tali busur, dan melepaskan anak panah. Panah melesat… dan jauh meleset dari sasaran. Tawa para prajurit meledak.
Baca juga: Kisah Humor Sufi Nasrudin Hoja: Harga Seorang Raja Namun Nasrudin dengan tenang berkata lantang, "Demikianlah gaya Tuan Wazir memanah!"
Tawa pun berhenti sejenak, lalu meledak lagi. Nasrudin tak peduli. Ia memasang panah kedua, membidik, melepaskan... dan meleset lagi.
"Dan yang ini," kata Nasrudin tanpa gentar, "adalah gaya Tuan Walikota memanah!"
Kali ini Timur Lenk sendiri mulai tersenyum geli. Para prajurit tertawa lebih keras. Nasrudin kemudian mengambil panah ketiga. Ia tarik napas panjang, membidik, dan melepaskan. Panah meluncur dan—ajaibnya—mengenai sasaran.
Nasrudin mengangkat tangan dan berkata lantang, "Dan inilah gaya Nasrudin memanah!"
Seketika, suasana hening sejenak sebelum akhirnya riuh oleh tawa dan tepuk tangan. Bahkan Timur Lenk, yang jarang tertawa, tergelak. Ia pun menyerahkan hadiah yang dijanjikan.
"Nasrudin, kau memang tak pernah gagal membuatku bingung," ujarnya sambil tersenyum.
Baca juga: Timur Lenk dan Raja-Raja di Surga: Humor Sufi ala Nasrudin Hoja HikmahNasrudin menunjukkan bahwa kecerdasan bukan sekadar soal logika, tapi juga cara menyelamatkan diri dari situasi sulit dengan keluwesan dan kelakar. Dalam hidup, tidak semua ujian bisa dihadapi dengan kekuatan; kadang, yang diperlukan adalah keluwesan lidah dan keberanian menertawakan diri sendiri.
Ketika panah meleset, bukan berarti gagal, selama kita tahu bagaimana membingkainya dengan cerdik. Seperti Nasrudin, kita tak harus selalu menang—yang penting, kita tetap bisa pulang dengan kepala tegak dan hati lapang.
(mif)