Sebuah surat misterius menjadi pemicu balik arah sejarah. Ditulis atas nama khalifah, disangkal isinya, dan dipertontonkan di ruang publik Madinah, surat itu mengunci Utsman bin Affan dalam pengepungan tanpa jalan keluar.
Kini, ratusan tahun setelah peristiwa itu berlalu, bait syair perempuan hitam itu tetap menggema sebagai pelajaran tentang iman, kesabaran, dan keajaiban ilahi: Hari selendang adalah tanda keajaiban Tuhan kita...
Gaya Abu Nawas yang santai, jenaka, dan nyeleneh justru membuat orang lebih mudah menerima pelajaran hidup. Humor dalam kisah ini tidak menghapus hikmahjustru memperhalusnya agar sampai ke hati.
Di zaman ini, kisah dua lelaki Bani Israil itu seperti dongeng. Siapa yang masih percaya Allah sebagai saksi dan penjamin utang? Siapa yang masih rela mengirim amanah lewat kayu, tanpa aplikasi pelacak, tanpa kwitansi?
Kisah ini memperkenalkan legenda lisan para darwis yang secara tradisional disusun oleh Al-Mutanabbi. Kisah-kisah ini, wasiatnya, menurut para penutur cerita, tidak boleh dituliskan selama seribu tahun.
Perempuan itu membawa Namrudz, dan melemparkannya ke tanah lapang di antara kumpulan sapi yang sedang merumput. Anehnya, semua sapi menjauhinya dan setiap kali ada binatang yang melihatnya, binatang itu kabur menjauhinya.
Betapa banyak kisah yang mengandung hikmah untuk memperkuat keimanan dan ketakwaan. Salah satunya tentang Ashhabul Ukhdud, yakni sekelompok rakyat pada masa pra-Islam yang beriman kepada Allah SWT.
Umat Yahudi telah lama tersebar di Khaibar, Yatsrib (Madinah), Wadi al-Qura, Fadak, Taima, dan di bagian selatan, khususnya Himyar. Penyebaran agama ini diwarnai kekerasan. Salah satunya adalah para peristiwa Ashabul Ukhdud.