Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Sabtu, 02 Mei 2026
home masjid detail berita

Kisah dari Hadis: Kayu, Laut, dan Janji di Atas Nama Allah

miftah yusufpati Kamis, 24 Juli 2025 - 04:15 WIB
Kisah dari Hadis: Kayu, Laut, dan Janji di Atas Nama Allah
Sebatang kayu hanyut di laut, menjadi saksi, bahwa janji kepada Allah tak pernah tenggelam. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Sebatang kayu biasa, hanyut di lautan. Bagi nelayan, mungkin hanya sampah yang terseret arus. Bagi seekor burung laut, mungkin sekadar tempat hinggap sebelum terbang lagi. Tapi bagi dua lelaki Bani Israil ribuan tahun lalu, sepotong kayu itu adalah simbol paling tulus dari sebuah janji kepada Tuhan — janji yang tak pernah terputus.

Kisah ini diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiallahu anhu. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menceritakan tentang dua lelaki dari Bani Israil yang terlibat perjanjian utang piutang. Satu orang meminjam seribu dinar kepada yang lain. Sebelum menyerahkan uang, si pemberi pinjaman sempat ragu. Ia minta saksi. Si peminjam menjawab, “Cukuplah Allah sebagai saksi.” Ia minta jaminan, dan dijawab lagi, “Cukuplah Allah sebagai penjamin.”

Jawaban yang terdengar nekad. Tapi keimanan yang bercahaya di balik kata-kata itu membuat si pemberi pinjaman luluh. Uang pun berpindah tangan, dengan masa jatuh tempo tertentu. Tak ada tanda tangan, tak ada surat bermaterai, hanya iman dan keyakinan kepada Tuhan sebagai saksi dan penjamin.

Beberapa waktu kemudian, si peminjam pergi berlayar untuk sebuah urusan. Waktu jatuh tempo tiba. Ia bergegas mencari kapal untuk pulang melunasi utang, tapi laut seperti sedang bercanda: tak ada satu perahu pun yang mau membawanya.

Baca juga: Kisah Humor Sufi: Jubah Nasrudin Hoja yang Jatuh

Tak ingin mengingkari janji, ia mengasah akalnya. Sebuah kayu ia ambil, dilubangi, lalu seribu dinar beserta secarik surat ia masukkan ke dalamnya. Lubang itu ia tutup rapat. Berdiri di pantai, ia memandang laut lepas dan berdoa, “Ya Allah, Engkau tahu aku meminjam seribu dinar kepada fulan. Aku berkata ‘Cukuplah Allah sebagai saksi,’ dan ia ridha. Aku berkata ‘Cukuplah Allah sebagai penjamin,’ dan ia pun ridha. Kini aku tidak menemukan kapal untuk pulang. Maka aku titipkan uang ini kepada-Mu.”

Kayu itu dilemparkan. Terombang-ambing, tak jelas arahnya. Hanyut ke samudra dengan pesan yang hanya Allah yang tahu.

Sementara itu, si pemberi pinjaman, di negerinya, berdiri di tepi pantai, menanti kedatangan peminjam yang berjanji. Yang datang justru sebuah kayu. Ia memungutnya, membawanya pulang, dan bersiap memotongnya untuk kayu bakar. Saat gergaji membelahnya, ia menemukan uang seribu dinar lengkap dengan suratnya.

Beberapa waktu kemudian, si peminjam akhirnya pulang dengan seribu dinar lain, siap membayar. “Maafkan aku, aku tak mendapatkan kapal sebelumnya,” ujarnya. Si pemberi pinjaman tersenyum. “Apakah engkau sudah mengirim sesuatu untukku?” tanya dia. Si peminjam kebingungan, menjawab bahwa ia tak bisa. Lalu si pemberi pinjaman berkata, “Allah sudah mengirimkannya untukku melalui kayu yang kau titipkan.”

Mereka pun sama-sama terharu, memuji Allah, dan saling memaafkan. Hutang itu lunas. Bukan hanya lunas secara materi, tapi juga lunas dalam iman dan kepercayaan.

Baca juga: Kisah Humor Sufi Nasrudin Hoja: Jika Kau Percaya Ia Beranak, Percayalah Ia Bisa Mati

Di zaman ini, kisah dua lelaki Bani Israil itu seperti dongeng. Siapa yang masih percaya Allah sebagai saksi dan penjamin utang? Siapa yang masih rela mengirim amanah lewat kayu, tanpa aplikasi pelacak, tanpa kwitansi?

Padahal, nilai kisah itu justru abadi. Ia adalah pelajaran bahwa siapa yang benar-benar bertawakal kepada Allah, pasti dicukupkan kebutuhannya. Seperti firman-Nya dalam surat Ath-Thalaq ayat 3:

“Barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.”

Rasulullah juga bersabda: “Jika kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal, niscaya kalian akan diberikan rezeki sebagaimana burung diberikan rezeki: berangkat pagi dengan perut kosong, pulang sore dengan perut kenyang.”

Pesan yang terasa getir di tengah dunia yang serba materialistis. Di mana orang lebih percaya pada tanda tangan di atas materai daripada janji yang menggetarkan langit. Lebih bergantung pada sebab-sebab dunia, lupa pada Pemilik sebab.

Baca juga: Kisah Humor Sufi Nasrudin Hoja: Kuda Pinjaman

Kisah kayu itu seakan datang untuk mengguncang kesadaran kita: masihkah kita punya iman seperti si peminjam, yang yakin titipan pada Allah tak akan tersia? Masihkah kita seperti si pemberi pinjaman, yang ridha menjadikan Allah sebagai jaminan?

Karena sesungguhnya, kalau kita benar-benar yakin kepada Tuhan kita, “Cukuplah Allah sebagai saksi. Cukuplah Allah sebagai penjamin.”

Dan sebatang kayu hanyut di laut, menjadi saksi, bahwa janji kepada Allah tak pernah tenggelam.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Sabtu 02 Mei 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:53
Ashar
15:14
Maghrib
17:49
Isya
19:00
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ اِنَّ الْمَوْتَ الَّذِيْ تَفِرُّوْنَ مِنْهُ فَاِنَّهٗ مُلٰقِيْكُمْ ثُمَّ تُرَدُّوْنَ اِلٰى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ ࣖ
Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)