LANGIT7.ID- Keputusan para delegasi Mesir, Kufah, dan Basrah untuk kembali ke Madinah menandai fase paling genting dalam krisis politik masa Khalifah Utsman bin Affan. Mereka semula berpamitan pulang, seolah menerima klarifikasi sang khalifah. Namun di tengah perjalanan, arah sejarah berubah oleh sebuah dokumen: surat misterius yang konon memerintahkan pembunuhan mereka.
Muhammad Husain Haekal, mengutip riwayat al-Tabari, mencatat bagaimana rombongan Mesir mengaku menemukan seorang kurir membawa surat berstempel cincin Utsman, di atas unta milik khalifah. Isinya mengerikan: perintah kepada gubernur Mesir untuk membunuh sebagian delegasi dan menyalib sebagian lainnya. Temuan itu menjadi dalih moral bagi mereka untuk berbalik dan mengepung Madinah.
Ketika surat itu dikonfrontasikan, Utsman menyangkal semuanya. Kurir itu, katanya, berangkat tanpa sepengetahuannya. Unta tersebut diambil tanpa izin. Cincin khalifah yang membubuhkan stempel, menurut Utsman, dipalsukan. Dalam perspektif hukum modern, sang khalifah mengajukan pembelaan klasik: pemalsuan identitas dan penyalahgunaan simbol kekuasaan.
Sejarawan modern berbeda pendapat. Wilferd Madelung menilai kemungkinan adanya permainan elite di sekitar istana, sementara Hugh Kennedy melihat peristiwa ini sebagai bukti rapuhnya sistem administrasi kekhalifahan yang belum memiliki mekanisme kontrol tertulis yang mapan. Namun tidak satu pun sumber awal yang mampu membuktikan langsung keterlibatan Utsman.
Yang jelas, surat itu berfungsi sebagai katalis. Kaum pemberontak memasuki Madinah sambil bertakbir, mengepung rumah khalifah, dan menerapkan teror psikologis: siapa yang keluar rumah dianggap musuh. Kota Nabi mendadak lumpuh.
Di tengah kepungan, Utsman masih berusaha bertindak sebagai pemimpin sah. Ia menulis surat ke berbagai wilayah, menyerukan bantuan. Dalam surat itu, ia membingkai krisis sebagai pemberontakan yang menyerupai Perang Ahzab: serangan kolektif terhadap pusat Islam. Ajakan itu menunjukkan bahwa Utsman masih berharap solidaritas politik umat dapat menyelamatkannya.
Ironisnya, sementara surat misterius dipakai untuk menuduhnya berkhianat, surat resmi Utsman justru tak sempat mengubah keadaan. Bantuan tak kunjung tiba.
Utsman tetap mendatangi Masjid Nabawi dan mengimami salat. Dari mimbar, ia memperingatkan kaum pemberontak tentang kutukan Rasul dan menyeru agar kejahatan dibalas dengan kebaikan. Kesaksian Muhammad bin Maslamah dan permintaan Zaid bin Tsabit agar surat tuduhan diperlihatkan justru berakhir ricuh. Mimbar menjadi arena kekerasan: kerikil beterbangan, jamaah dipaksa keluar, dan Utsman dilempari hingga jatuh pingsan.
Namun bahkan setelah itu, ia kembali memimpin salat selama hampir sebulan, sampai akhirnya dicegah secara fisik. Kaum pemberontak mengangkat Gafiqi bin Harb al-Akki sebagai imam, simbol bahwa otoritas keagamaan dan politik khalifah telah direbut.
Surat misterius itu, benar atau palsu, telah bekerja efektif. Ia merusak sisa legitimasi Utsman, memecah opini publik, dan mengubah konflik politik menjadi pengepungan terbuka. Dalam sejarah Islam awal, inilah contoh bagaimana selembar dokumen—tanpa verifikasi—dapat menjatuhkan seorang khalifah dan membuka pintu tragedi besar berikutnya.
(mif)