LANGIT7.ID-Di salah satu sudut
Masjid Nabawi, pada masa Rasulullah ﷺ masih hidup, pernah tinggal seorang perempuan berkulit hitam. Ia bukan sahabat besar, bukan pula dari kalangan Anshar maupun Muhajirin. Namanya tidak disebut dalam sejarah. Namun kisahnya abadi dalam kitab Shahih Bukhari, dalam hadis nomor 3835, diriwayatkan dari Sayyidah Aisyah radhiallahu ‘anha.
Perempuan itu, menurut Aisyah, adalah bekas budak milik seorang Arab yang akhirnya memeluk Islam. Ia memiliki sebuah tempat tinggal sederhana, dalam riwayat disebut "hifsy", yaitu gubuk kecil yang berdiri di dekat masjid. Tiap kali datang, ia selalu menyapa Aisyah dan para istri Nabi. Setelah berbincang, ia menutup obrolan dengan bait syair yang sama:
"Hari selendang adalah tanda keajaiban Tuhan kita. Sungguh, dari negeri kufur Dia menyelamatkanku."
Syair itu ia ulang-ulang. Hingga suatu hari, Aisyah penasaran dan bertanya, “Apa maksudmu dengan ‘hari selendang’ itu?”
Lalu mengalirlah kisah getir dari masa lalunya.
Ia bercerita bahwa suatu hari, anak perempuan dari keluarga tuannya pergi membawa selendang kulit, semacam syal berharga yang biasa digunakan wanita Arab kala itu. Tanpa sengaja, selendang itu terjatuh. Seekor burung menyambar dan membawanya terbang, mengira itu adalah daging. Namun malang, sang budak justru dituduh mencurinya.
Baca juga: Kisah Hikmah: Tiga Suara Bayi dan Seekor Anjing“Aku disiksa,” ujarnya, “bahkan mereka menggeledahku sampai ke bagian depan tubuhku.”
Air mata bisa jadi telah membasahi pipinya saat mengenang kejadian itu. Betapa tubuhnya yang tidak bersalah menjadi sasaran murka dan fitnah. Namun ketika semua mata dan tangan tertuju untuk menghukumnya, tiba-tiba dari langit turunlah kebenaran—secara harfiah.
Burung itu kembali, terbang di atas kepala mereka, dan melemparkan benda yang ia curi. Jatuhlah selendang itu tepat di hadapan mereka.
“Aku berkata: Inilah yang kalian tuduhkan padaku, dan aku terbebas darinya.”
---
Cerita ini bukan sekadar dongeng tragis. Ia mengandung hikmah yang dalam. Sebagaimana disimpulkan para ulama, seperti Imam Ibnu Hajar dalam Fathul Bari, ada pelajaran penting dari kisah ini:
Pertama, doa orang yang dizalimi dikabulkan, sekalipun ia belum beriman. Berdasarkan kronologi cerita, perempuan ini baru masuk Islam setelah tinggal di Madinah. Ini menegaskan sabda Nabi ﷺ bahwa “takutlah kalian terhadap doa orang yang dizalimi, karena antara dia dan Allah tidak ada penghalang.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Baca juga: Kisah Hikmah Mullah Nasrudin dan Kengerian Timur Lenk: Pedang Keadilan dari Langit Kedua, Allah memberikan jalan keluar bagi siapa pun yang teraniaya, bahkan jika itu terjadi di negeri yang jauh dari iman. Seperti firman-Nya dalam surah An-Nisa ayat 100:
"Barang siapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak."
Ketiga, kisah ini menunjukkan kebolehan bagi orang fakir, laki-laki maupun perempuan, untuk bermalam di masjid, jika tidak memiliki tempat tinggal dan aman dari fitnah. Sebagaimana perempuan ini diizinkan tinggal di masjid, dan para sahabat pun tidak melarangnya.
Baca juga: Kisah Hikmah dari Hadis: Saat Ujian Berbalik Menjadi Azab ---
Kini, ratusan tahun setelah peristiwa itu berlalu, bait syair perempuan hitam itu tetap menggema sebagai pelajaran tentang iman, kesabaran, dan keajaiban ilahi:
"Hari selendang adalah tanda keajaiban Tuhan kita..."
Terkadang, kebenaran memang turun dari langit. Dan keadilan itu, jika tidak datang dari manusia, akan Allah kirimkan lewat cara-cara yang tak disangka, bahkan dari cakar seekor burung.
(mif)