LANGIT7.ID-Jakarta; - Dalam kehidupan bermasyarakat, tolok ukur kesalehan seseorang sering kali hanya dinilai dari aktivitas ibadah ritual yang tampak di permukaan. Padahal, Islam meletakkan keagungan risalahnya pada dampak sosial, kedalaman akhlak, serta kemampuan mengendalikan diri. Hal inilah yang ditegaskan kembali dalam kajian Fikih Hadis ke-203 oleh Dosen IAIPI Bandung, Ustaz Robi Permana.
Faḍālah bin ‘Ubaid radhiyallāhu 'anhu mengabadikan pesan mendalam Rasulullah ﷺ saat beliau menyampaikan khutbah pada peristiwa Ḥajjatul Wadā‘ (Haji Perpisahan):
عَنْ فَضَالَةَ بْنِ عُبَيْدٍ رضي الله عنه، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ فِي حَجَّةِ الْوЕДِاعِ: «أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِالْمُؤْمِنِ؟ مَنْ أَمِنَهُ النَّاسُ عَلَى أَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ، وَالْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ النَّاسُ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ، وَالْمُجَاهِدُ مَنْ جَاهَدَ نَفْسَهُ فِي طَاعَةِ اللَّهِ، وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ الْخَطَايَا وَالذُّنُوبَ»
Artinya: "
Maukah aku beritahukan kepada kalian siapakah orang mukmin itu? Mukmin adalah orang yang membuat manusia merasa aman terhadap harta dan jiwa mereka darinya. Muslim adalah orang yang kaum muslimin selamat dari gangguan lisan dan tangannya. Mujahid adalah orang yang berjihad melawan hawa nafsunya dalam ketaatan kepada Allah. Serta Muhajir adalah orang yang meninggalkan segala kesalahan dan dosa." (HR Ahmad, Ibnu Hibban, an-Nasā'i, dan al-Hakim).
Melalui pesan abadi ini, terdapat empat pilar utama yang menjadi cermin kualitas keimanan seorang muslim di tengah dinamika zaman. Pertama, mukmin. Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa indikator keimanan tidak cukup sekadar pengakuan di bibir. Iman yang menghujam kuat di dalam dada harus memancar ke luar dalam bentuk jaminan keamanan sosial. Seorang mukmin sejati adalah sosok yang kehadirannya memberi rasa tenang bagi lingkungan sekitar, baik atas harta benda maupun keselamatan jiwa mereka.
Orang yang beriman pantang melakukan pengkhianatan, penzaliman, atau merampas hak-hak orang lain secara berbatil. Pentingnya menjaga amanah ini ditegaskan Allah SWT dalam surat An-Nisā': 58:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَى أ أَهْلِهَا
"Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya."Prinsip ini berbanding lurus dengan ajaran Islam yang sangat mengagungkan keselamatan jiwa manusia. Sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. Al-Mā'idah: 32:
مَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَا أَحْيَا النَّاسَ جَمِيعًا
"...Barang siapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka seakan-akan ia telah memelihara kehidupan seluruh manusia." Ayat ini memperjelas betapa tingginya nilai memelihara dan menjaga keselamatan jiwa sesama dalam syariat Islam.
Baca Juga: Cholil Nafis: Perilaku dan Kampanye LGBT Diusulkan Masuk Objek PemidanaanKedua, muslim. Keislaman seseorang senantiasa tecermin pada keluhuran akhlaknya. Rasulullah ﷺ memberikan perhatian khusus pada dua instrumen utama dalam berinteraksi: lisan dan tangan (tindakan).
Lisan sangat rentan merusak hubungan sosial melalui fitnah, ghibah (menggunjing), dusta, maupun celaan yang menyakitkan. Sementara tangan mewakili tindakan fisik, penggunaan kekuasaan, atau tulisan yang merugikan orang lain.
Guna menjaga keharmonisan ini, Al-Qur'an melarang keras perilaku merendahkan sesama manusia melalui surah Al-Hujurāt: 11:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ...
"Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mencela kaum yang lain..."Larangan ini disempurnakan pada ayat berikutnya, QS Al-Hujurāt: 12, yang mengharamkan tindakan menggunjing:
وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا
"Dan janganlah sebagian kalian menggunjing sebagian yang lain." Seorang muslim yang sadar akan hakikat dirinya akan senantiasa berhati-hati dalam bertindak dan bertutur kata, sebab ia meyakini pengawasan malaikat Allah yang tak pernah alpa, sebagaimana termaktub dalam QS. Qāf: 18:
مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
"Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada malaikat yang selalu mengawasi (di dekatnya)."Ketiga, mujahid. Dalam hadis ini, Rasulullah ﷺ mengarahkan makna jihad pada arena pertempuran yang paling mendasar: jihad an-nafs atau perjuangan mengendalikan hawa nafsu pribadi. Menundukkan ego dan hawa nafsu agar tetap tunduk dalam ketaatan kepada Allah merupakan fondasi paling krusial sebelum seseorang melangkah ke bentuk-bentuk perjuangan lainnya.
Allah SWT menjanjikan petunjuk dan jalan keluar bagi siapa saja yang bersungguh-sungguh dalam arena perjuangan batin ini, sebagaimana tertuang dalam QS. Al-'Ankabūt: 69:
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا
"Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, sungguh akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami."Kemampuan menahan diri dari godaan hawa nafsu demi rasa takut kepada Allah adalah kunci utama meraih kebahagiaan abadi di akhirat, sebagaimana dinyatakan dalam QS An-Nāzi'āt 40–41:
وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى • فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى
"Adapun orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan dirinya dari (keinginan) hawa nafsunya, maka sungguh surgalah tempat tinggalnya."Keempat, muhajir. Makna hijrah tidak boleh dipersempit sekadar perpindahan fisik atau wilayah geografi semata. Hijrah yang hakiki dan senantiasa terbuka sepanjang zaman adalah hijrah spiritual (hijrah al-ma'nawiyah), yaitu keberanian moral untuk meninggalkan dosa, kesalahan, dan kebiasaan buruk menuju ketaatan yang sempurna.
Allah SWT tidak pernah menutup pintu perbaikan bagi hamba-Nya yang ingin berhijrah. Dalam QS. Az-Zumar: 53, Allah menegaskan rahmat-Nya yang mahaluas:
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ
"Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah..."Seruan untuk berhijrah secara penuh keikhlasan ini ditegaskan kembali dalam QS At-Taḥrīm 8:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا
"Wahai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang sebenar-benarnya (nasuha)."Empat pilar yang disampaikan Rasulullah ﷺ merupakan satu kesatuan utuh yang saling menopang. Keimanan yang benar akan melahirkan kedamaian dan rasa aman.
Baca Juga: Ketua DPRD DKI Dorong Pemuda Persis Fokus Kaderisasi dan KeilmuanKedamaian tersebut diwujudkan melalui akhlak keislaman yang menenteramkan lisan dan tindakan. Namun untuk menjaga kestabilan akhlak tersebut, diperlukan perjuangan (jihad) yang tak kenal lelah melawan hawa nafsu, yang dibuktikan secara nyata melalui proses hijrah berkelanjutan dari kegelapan maksiat menuju ketaatan.
Kualitas dan derajat seorang muslim tidak semata-mata diukur dari kuantitas ibadahnya. Kualitas iman yang sejati ditentukan oleh sejauh mana kehadirannya mampu menciptakan rasa aman, menabur kedamaian, mengendalikan diri, serta membawa perubahan positif bagi dirinya maupun lingkungan masyarakat luas.
(zhd)