Api, Kapak, dan Kekasih Tuhan: Tafsir Pembakaran Nabi Ibrahim pada 10 Muharram
Miftah yusufpati
Jum'at, 27 Juni 2025 - 15:53 WIB
Dan 10 Muharram, dalam kerangka ini, bukan hanya hari duka, tetapi hari keteguhan. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Tanggal 10 Muharram selalu dipenuhi gema spiritual yang berlapis-lapis. Bagi sebagian umat, hari itu bukan hanya tentang Karbala atau kisah tobat para nabi. Ia juga dikenang sebagai momen api dinyalakan setinggi gunung untuk membakar seorang remaja pemberontak bernama Ibrahim.
Di hari itulah, menurut sebagian riwayat, Raja Namrudz menyalakan kobaran egonya. Namun, seperti kita tahu dari kisah yang diwariskan dalam kitab-kitab tafsir dan kisah para nabi, api itu gagal menjalankan tugasnya.
Dalam catatan Syaikh Muhammad bin Ahmad bin Iyas dalam "Kisah Penciptaan dan Tokoh-Tokoh Sepanjang Zaman", peristiwa itu terjadi saat Nabi Ibrahim baru berusia 17 tahun.
Ia telah dikenal sebagai penggugat sistem kepercayaan kaumnya yang memuja patung-patung tak bernyawa. Saat seluruh kota berbondong-bondong ke pesta perayaan tahunan para “tuhan” mereka, Ibrahim memilih tinggal. “Sesungguhnya aku sakit,” katanya, menukil QS. Ash-Shaffat ayat 89. Namun yang sakit bukan tubuhnya. Yang demam adalah nuraninya melihat akal sehat kaumnya yang dipasung oleh kebiasaan sesat.
Baca juga: Jejak Nabi Ibrahim di Makkah: Dinamika Sejarah Migrasi dan Wahyu
Saat tempat ibadah kosong, Ibrahim mengambil kapak dan menghancurkan 72 dari 73 berhala. Yang terbesar dibiarkan berdiri. Bahkan, kapaknya digantung di bahu sang berhala agung. Ketika orang-orang kembali dan menyaksikan kehancuran itu, mereka gusar. Mereka bertanya, lalu menuduh. Ibrahim menjawab dengan logika satir: “Bukan aku yang melakukannya. Tanyakan saja pada berhala besar itu.”
Pertanyaan Ibrahim bukan sekadar ejekan, melainkan sindiran intelektual: mengapa kalian menyembah sesuatu yang bahkan tak bisa membela dirinya sendiri? Jawaban itu menusuk dan menggugah. Tapi bagi kekuasaan, logika tak selalu bisa dikompromikan. Maka Namrudz, simbol kekuasaan yang tak tahan dikritik, memerintahkan hukuman bakar.
Di hari itulah, menurut sebagian riwayat, Raja Namrudz menyalakan kobaran egonya. Namun, seperti kita tahu dari kisah yang diwariskan dalam kitab-kitab tafsir dan kisah para nabi, api itu gagal menjalankan tugasnya.
Dalam catatan Syaikh Muhammad bin Ahmad bin Iyas dalam "Kisah Penciptaan dan Tokoh-Tokoh Sepanjang Zaman", peristiwa itu terjadi saat Nabi Ibrahim baru berusia 17 tahun.
Ia telah dikenal sebagai penggugat sistem kepercayaan kaumnya yang memuja patung-patung tak bernyawa. Saat seluruh kota berbondong-bondong ke pesta perayaan tahunan para “tuhan” mereka, Ibrahim memilih tinggal. “Sesungguhnya aku sakit,” katanya, menukil QS. Ash-Shaffat ayat 89. Namun yang sakit bukan tubuhnya. Yang demam adalah nuraninya melihat akal sehat kaumnya yang dipasung oleh kebiasaan sesat.
Baca juga: Jejak Nabi Ibrahim di Makkah: Dinamika Sejarah Migrasi dan Wahyu
Saat tempat ibadah kosong, Ibrahim mengambil kapak dan menghancurkan 72 dari 73 berhala. Yang terbesar dibiarkan berdiri. Bahkan, kapaknya digantung di bahu sang berhala agung. Ketika orang-orang kembali dan menyaksikan kehancuran itu, mereka gusar. Mereka bertanya, lalu menuduh. Ibrahim menjawab dengan logika satir: “Bukan aku yang melakukannya. Tanyakan saja pada berhala besar itu.”
Pertanyaan Ibrahim bukan sekadar ejekan, melainkan sindiran intelektual: mengapa kalian menyembah sesuatu yang bahkan tak bisa membela dirinya sendiri? Jawaban itu menusuk dan menggugah. Tapi bagi kekuasaan, logika tak selalu bisa dikompromikan. Maka Namrudz, simbol kekuasaan yang tak tahan dikritik, memerintahkan hukuman bakar.