Fadli Zon Resmikan Festival Gau’ Maraja 2025, Ungkap Jejak Peradaban Tertua Dunia Ada di Maros
Tim langit 7
Jum'at, 04 Juli 2025 - 19:43 WIB
Fadli Zon Resmikan Festival Gau Maraja 2025, Ungkap Jejak Peradaban Tertua Dunia Ada di Maros
LANGIT7.ID-Maros;Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, membuka Festival Gau' Maraja Leang-Leang 2025 di Lapangan Pallantikang, Kabupaten Maros. Sulawesi Selatan, yang bertepatan dengan Hari Jadi ke-66 Kabupaten Maros. Dalam sambutannya, Menbud Fadli Zon menegaskan pentingnya Maros sebagai sebagai salah satu situs peradaban tertua di dunia dan simbol kekayaan megadiversity Indonesia. Menurut Menbud Fadli, Festival Gau’ Maraja merupakan momentum strategis untuk memperkenalkan warisan budaya dan situs arkeologis Indonesia kepada dunia.
Menbud Fadli menyampaikan ucapan selamat atas Hari Jadi Kabupaten Maros yang ke-66. “Suatu kehormatan besar bahwa peringatan hari jadi ini dirangkaikan secara istimewa dengan pelaksanaan Festival Gau’ Maraja,” ujar Menteri Fadli Zon. Ia mengungkapkan bahwa kehadirannya di Maros merupakan kali kedua.
Menurut Menbud Fadli, Festival Gau’ Maraja yang bertemakan Leang-Leang Goes to Megadiversity, ini bukan hanya sekadar slogan, tetapi memiliki makna yang mendalam. “Leang-Leang sebagai Taman Arkeologi satu-satunya di Sulawesi Selatan ini memegang peranan penting dalam mendukung identitas Indonesia sebagai salah satu negara megadiversity di dunia. Bukan hanya dalam konteks kekayaan flora dan fauna, tetapi juga dalam keberagaman budaya dan sejarah peradaban manusia,” ujarnya. Gau' Maraja, yang dalam Bahasa Bugis-Makassar berarti ‘perhelatan besar’, tahun ini diselenggarakan sebagai festival akbar yang memadukan Cagar Budaya dan Objek Pemajuan Kebudayaan.
Menbud Fadli menekankan bahwa Kabupaten Maros bukan hanya kaya akan tradisi lokal, tetapi juga menyimpan jejak peradaban manusia tertua di dunia. “Usia Kabupaten Maros memang baru 66 tahun, tetapi jejak peradabannya lebih dari 50 ribu tahun,” katanya. Ia merujuk pada temuan-temuan ilmiah di kawasan gua prasejarah di Maros-Pangkep, termasuk Leang Karampuang, yang telah ia kunjungi beberapa waktu lalu.
“Lukisan purba tertua di dunia, berusia 51.200 tahun, ditemukan di Leang Karampuang. Ini membuktikan bahwa warisan budaya tertua bukan berasal dari negara atau benua lain, melainkan dari Indonesia, dari Maros,” tegasnya.
Menurut Menbud Fadli, kekayaan arkeologis dan budaya Maros merupakan bukti nyata bahwa Indonesia adalah salah satu peradaban tertua dan terkaya di dunia. Ia menyebut keberagaman budaya Indonesia sebagai bagian dari megadiversity yang harus terus dipromosikan, mulai dari seni tari, musik, teater, hingga senjata tradisional, seperti bilah, badik, dan keris.
Lebih lanjut, Menbud Fadli juga menyoroti pentingnya posisi kebudayaan sebagai pilar pembangunan nasional. Ia menjelaskan bahwa Presiden Prabowo Subianto telah menjadikan kebudayaan sebagai fondasi penting dalam Astacita ke-8. “Kebudayaan menyangkut jati diri dan identitas bangsa. Di tengah derasnya arus globalisasi dan informasi, kita harus mengokohkan kebudayaan nasional kita,” ujarnya.
Menbud Fadli menyampaikan ucapan selamat atas Hari Jadi Kabupaten Maros yang ke-66. “Suatu kehormatan besar bahwa peringatan hari jadi ini dirangkaikan secara istimewa dengan pelaksanaan Festival Gau’ Maraja,” ujar Menteri Fadli Zon. Ia mengungkapkan bahwa kehadirannya di Maros merupakan kali kedua.
Menurut Menbud Fadli, Festival Gau’ Maraja yang bertemakan Leang-Leang Goes to Megadiversity, ini bukan hanya sekadar slogan, tetapi memiliki makna yang mendalam. “Leang-Leang sebagai Taman Arkeologi satu-satunya di Sulawesi Selatan ini memegang peranan penting dalam mendukung identitas Indonesia sebagai salah satu negara megadiversity di dunia. Bukan hanya dalam konteks kekayaan flora dan fauna, tetapi juga dalam keberagaman budaya dan sejarah peradaban manusia,” ujarnya. Gau' Maraja, yang dalam Bahasa Bugis-Makassar berarti ‘perhelatan besar’, tahun ini diselenggarakan sebagai festival akbar yang memadukan Cagar Budaya dan Objek Pemajuan Kebudayaan.
Menbud Fadli menekankan bahwa Kabupaten Maros bukan hanya kaya akan tradisi lokal, tetapi juga menyimpan jejak peradaban manusia tertua di dunia. “Usia Kabupaten Maros memang baru 66 tahun, tetapi jejak peradabannya lebih dari 50 ribu tahun,” katanya. Ia merujuk pada temuan-temuan ilmiah di kawasan gua prasejarah di Maros-Pangkep, termasuk Leang Karampuang, yang telah ia kunjungi beberapa waktu lalu.
“Lukisan purba tertua di dunia, berusia 51.200 tahun, ditemukan di Leang Karampuang. Ini membuktikan bahwa warisan budaya tertua bukan berasal dari negara atau benua lain, melainkan dari Indonesia, dari Maros,” tegasnya.
Menurut Menbud Fadli, kekayaan arkeologis dan budaya Maros merupakan bukti nyata bahwa Indonesia adalah salah satu peradaban tertua dan terkaya di dunia. Ia menyebut keberagaman budaya Indonesia sebagai bagian dari megadiversity yang harus terus dipromosikan, mulai dari seni tari, musik, teater, hingga senjata tradisional, seperti bilah, badik, dan keris.
Lebih lanjut, Menbud Fadli juga menyoroti pentingnya posisi kebudayaan sebagai pilar pembangunan nasional. Ia menjelaskan bahwa Presiden Prabowo Subianto telah menjadikan kebudayaan sebagai fondasi penting dalam Astacita ke-8. “Kebudayaan menyangkut jati diri dan identitas bangsa. Di tengah derasnya arus globalisasi dan informasi, kita harus mengokohkan kebudayaan nasional kita,” ujarnya.