home masjid

Dua Tingkat Zikir: Di Hadapan Allah, antara Kagum dan Malu

Senin, 07 Juli 2025 - 16:30 WIB
Di hadapan Allah, tak ada ruang untuk bersandiwara. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Di dalam perjalanan para pencari Tuhan, zikrullah—mengingat Allah—bukan sekadar melafalkan nama-Nya. Ia adalah keadaan hati, tingkah laku, bahkan nafas. Dalam Kimia Kebahagiaankarya Imam Al-Ghazali, dua tingkatan zikir dijelaskan dengan kisah-kisah yang menggetarkan, yang tak hanya memberi pelajaran tentang bagaimana mengingat-Nya, tetapi juga tentang bagaimana menjadi manusia yang benar-benar hadir di hadapan-Nya.

Tingkatan pertama adalah tingkatan para wali. Di tingkat ini, pikiran-pikiran manusia terserap seluruhnya pada perenungan dan keagungan Allah, sehingga tak ada lagi ruang di hati mereka untuk hal-hal selain-Nya. Bahkan perkara-perkara halal pun mereka jauhi, seolah-olah mereka tak lagi butuh pengingat atau penjaga untuk menjauhkan diri dari dosa. Nabi Muhammad pernah berkata tentang keadaan ini: “Orang yang bangun di pagi hari hanya dengan Allah di dalam pikirannya maka Allah akan menjaganya di dunia ini maupun di akhirat.”

Dalam keadaan ini, para wali bisa tampak asing bagi manusia lain. Beberapa di antaranya larut begitu dalam hingga tak mendengar orang yang berbicara pada mereka, tak melihat orang yang berjalan di depan mereka, bahkan terhuyung-huyung seolah menabrak dinding.

Baca juga: Tarian Ekstase yang Ditahan, Teriakan yang Mematikan di Mata Imam Al-Ghazali

Al-Ghazali mengutip sebuah riwayat: seorang wali melewati tempat orang-orang berlomba memanah, lalu melihat seseorang duduk sendirian. Ketika diajak berbicara, orang itu hanya menjawab, “Mengingat Allah lebih baik daripada bercakap.”

Ketika ditanya apakah ia tak kesepian, ia menjawab, “Tidak, Allah dan dua malaikat bersama saya.” Saat ditanya siapa yang memenangkan lomba, ia berkata singkat, “Orang yang telah ditakdirkan Allah untuk menang.” Dan ketika ditanya dari mana jalan ini datang, ia hanya memandang langit dan berbisik, “Ya Rabbi, banyak makhluk-Mu menghalang-halangi orang dari mengingat-Mu,” lalu pergi.

Ada pula kisah Wali Syibli yang mengunjungi sufi Tsauri. Ia mendapati Tsauri duduk diam dalam tafakur, bahkan sehelai rambut pun tak bergerak. Syibli bertanya, “Dari siapa Anda belajar tenang seperti itu?” Tsauri menjawab, “Dari seekor kucing yang saya lihat menunggu di lubang tikus dengan kesabaran yang bahkan lebih daripada saya.”
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya