Menghitung Diri Sebelum Waktu Menghapus Segalanya
Miftah yusufpati
Selasa, 08 Juli 2025 - 16:00 WIB
Apa yang telah kau lakukan hari ini? Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Setiap malam, di sepertiga terakhir waktu ketika manusia lain terlelap, Khalifah Umar bin Khattab memukul kakinya sendiri dengan ngeri. “Apa yang telah kau lakukan hari ini?” serunya kepada dirinya sendiri.
Begitulah cara Umar menjaga jiwanya: menimbang, menuntut pertanggungjawaban, sebelum kelak semua itu ditimbang dan dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan. Sebagaimana dikisahkan Imam Al-Ghazali dalam Kimia Kebahagiaan(Ashraf Publication, Lahore, 1979, terjemahan Mizan), inilah jalan para wali: mereka menghitung dosa dan khilaf seperti seorang saudagar yang cermat menghitung untung rugi modal dagangnya.
Seorang wali bernama Amiya pernah melakukannya. Pada usia 60 tahun ia menghitung hari-hari hidupnya: 21.600 hari. Lalu ia berkata kepada dirinya sendiri, “Celaka aku! Jika setiap hari hanya satu dosa, bagaimana aku bisa selamat dari tumpukan 21.600 dosa?” Ia berteriak, lalu rebah, dan ketika orang-orang mendatanginya, mereka dapati ia sudah mati.
Baca juga: Tarian Ekstase yang Ditahan, Teriakan yang Mematikan di Mata Imam Al-Ghazali
Tetapi mayoritas manusia, kata Al-Ghazali, tak pernah menuntut pertanggungjawaban diri. Mereka menghitung biji tasbih dengan puas setelah melafalkan nama Allah, tetapi tidak memiliki “tasbih” untuk menghitung kata-kata sia-sia yang tak terhitung jumlahnya.
Jika setiap dosa diwakili oleh sebuah batu yang diletakkan dalam rumah kosong, dalam waktu singkat rumah itu akan penuh dengan batu dosa. Jika malaikat pencatat menuntut upah untuk setiap dosa yang ia catat, semua harta manusia akan habis.
Abu Thalhah suatu hari pernah shalat di kebun kurma, tapi perhatiannya teralihkan oleh burung indah yang melintas. Ia lupa jumlah rakaatnya. Sebagai hukuman, ia memberikan kebun itu kepada orang lain. Para wali seperti itu tahu bahwa hati mereka, sebagaimana disebut Al-Ghazali, adalah seperti rekan dagang yang khianat—yang bisa memperdaya mereka dengan perasaan puas diri, padahal sesungguhnya merugi.
Begitulah cara Umar menjaga jiwanya: menimbang, menuntut pertanggungjawaban, sebelum kelak semua itu ditimbang dan dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan. Sebagaimana dikisahkan Imam Al-Ghazali dalam Kimia Kebahagiaan(Ashraf Publication, Lahore, 1979, terjemahan Mizan), inilah jalan para wali: mereka menghitung dosa dan khilaf seperti seorang saudagar yang cermat menghitung untung rugi modal dagangnya.
Seorang wali bernama Amiya pernah melakukannya. Pada usia 60 tahun ia menghitung hari-hari hidupnya: 21.600 hari. Lalu ia berkata kepada dirinya sendiri, “Celaka aku! Jika setiap hari hanya satu dosa, bagaimana aku bisa selamat dari tumpukan 21.600 dosa?” Ia berteriak, lalu rebah, dan ketika orang-orang mendatanginya, mereka dapati ia sudah mati.
Baca juga: Tarian Ekstase yang Ditahan, Teriakan yang Mematikan di Mata Imam Al-Ghazali
Tetapi mayoritas manusia, kata Al-Ghazali, tak pernah menuntut pertanggungjawaban diri. Mereka menghitung biji tasbih dengan puas setelah melafalkan nama Allah, tetapi tidak memiliki “tasbih” untuk menghitung kata-kata sia-sia yang tak terhitung jumlahnya.
Jika setiap dosa diwakili oleh sebuah batu yang diletakkan dalam rumah kosong, dalam waktu singkat rumah itu akan penuh dengan batu dosa. Jika malaikat pencatat menuntut upah untuk setiap dosa yang ia catat, semua harta manusia akan habis.
Abu Thalhah suatu hari pernah shalat di kebun kurma, tapi perhatiannya teralihkan oleh burung indah yang melintas. Ia lupa jumlah rakaatnya. Sebagai hukuman, ia memberikan kebun itu kepada orang lain. Para wali seperti itu tahu bahwa hati mereka, sebagaimana disebut Al-Ghazali, adalah seperti rekan dagang yang khianat—yang bisa memperdaya mereka dengan perasaan puas diri, padahal sesungguhnya merugi.