LANGIT7.ID-Setiap malam, di sepertiga terakhir waktu ketika manusia lain terlelap, Khalifah
Umar bin Khattab memukul kakinya sendiri dengan ngeri. “Apa yang telah kau lakukan hari ini?” serunya kepada dirinya sendiri.
Begitulah cara Umar menjaga jiwanya: menimbang, menuntut pertanggungjawaban, sebelum kelak semua itu ditimbang dan dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan. Sebagaimana dikisahkan
Imam Al-Ghazali dalam
Kimia Kebahagiaan (Ashraf Publication, Lahore, 1979, terjemahan Mizan), inilah jalan para wali: mereka menghitung
dosa dan khilaf seperti seorang saudagar yang cermat menghitung untung rugi modal dagangnya.
Seorang wali bernama Amiya pernah melakukannya. Pada usia 60 tahun ia menghitung hari-hari hidupnya: 21.600 hari. Lalu ia berkata kepada dirinya sendiri, “Celaka aku! Jika setiap hari hanya satu dosa, bagaimana aku bisa selamat dari tumpukan 21.600 dosa?” Ia berteriak, lalu rebah, dan ketika orang-orang mendatanginya, mereka dapati ia sudah mati.
Baca juga: Tarian Ekstase yang Ditahan, Teriakan yang Mematikan di Mata Imam Al-Ghazali Tetapi mayoritas manusia, kata Al-Ghazali, tak pernah menuntut pertanggungjawaban diri. Mereka menghitung biji tasbih dengan puas setelah melafalkan nama Allah, tetapi tidak memiliki “tasbih” untuk menghitung kata-kata sia-sia yang tak terhitung jumlahnya.
Jika setiap dosa diwakili oleh sebuah batu yang diletakkan dalam rumah kosong, dalam waktu singkat rumah itu akan penuh dengan batu dosa. Jika malaikat pencatat menuntut upah untuk setiap dosa yang ia catat, semua harta manusia akan habis.
Abu Thalhah suatu hari pernah shalat di kebun kurma, tapi perhatiannya teralihkan oleh burung indah yang melintas. Ia lupa jumlah rakaatnya. Sebagai hukuman, ia memberikan kebun itu kepada orang lain. Para wali seperti itu tahu bahwa hati mereka, sebagaimana disebut Al-Ghazali, adalah seperti rekan dagang yang khianat—yang bisa memperdaya mereka dengan perasaan puas diri, padahal sesungguhnya merugi.
Mereka juga tahu bahwa jiwa cenderung membangkang. Maka mereka belajar dari teladan atau mencari guru yang bisa menularkan semangat ketelitian. “Jika saya ogah-ogahan,” kata seorang wali, “saya cukup menatap Muhammad ibn Wasi. Sekedar memandangnya saja sudah menyalakan kembali semangat saya untuk seminggu penuh.”
Baca juga: Ekstase, Luka, dan Sunyi Para Pencinta Ajaran Imam Al-Ghazali Tetapi jika tak ada teladan seperti itu di sekitar, seseorang mesti mengintip kehidupan para wali di buku-buku. Atau, jika perlu, bicara langsung pada jiwanya sendiri:
“Wahai jiwaku, kau merasa cerdas dan marah jika disebut tolol. Kau menyiapkan pakaian untuk melindungi dirimu dari dingin, tapi tak kau persiapkan diri untuk akhiratmu. Bukankah Tuhan sudah menunjukkan jalan untuk melindungi diri dari neraka, sebagaimana Ia menunjukkan cara membuat pakaian dari dingin? Jangan berpikir dosa-dosamu akan menyakiti Tuhan. Nafsumu sendiri yang menyalakan api neraka dalam dirimu.”
Al-Ghazali menggambarkan jiwa yang terlena pada dunia seperti orang yang yakin akan rahmat Tuhan tapi menolak mengenakan pakaian di musim dingin. Ia lupa bahwa rahmat Tuhan juga hadir lewat akal dan usaha.
Begitu pula, cintanya pada dunia membuat manusia silau. Kalau pun dunia dari ujung timur sampai barat berada dalam genggamannya, semuanya tetap akan menjadi debu. “Tetapi sekarang,” tulis Al-Ghazali, “kau bahkan hanya memiliki bagian kecil yang kotor dari dunia, dan itu pun masih ingin kau tukar dengan kebahagiaan abadi. Mengapa begitu bodoh menukar permata mahal dengan segumpal lempung, dan menjadikan dirimu bahan tertawaan para malaikat?”
Jalan para wali selalu terasa berat: mereka menimbang diri sebelum ditimbang, menghukum diri sebelum dihukum, memarahi diri sebelum dimarahi.
Di dunia yang gaduh, di mana orang berlomba mengejar dunia namun lupa menyiapkan diri untuk akhirat, pertanyaan Umar bin Khattab pada dirinya sendiri tiap malam sepertinya layak kita ulang:
“Apa yang telah kau lakukan hari ini?”
Baca juga: Bukan Seruling Setan: Membaca Ulang Musik dan Tarian dalam Laku Sufi Imam Al-Ghazali(mif)