Obat Segala Masalah: Jalan Istighfar Hasan Al-Bashri
Miftah yusufpati
Sabtu, 12 Juli 2025 - 04:15 WIB
Hasan Al-Bashri tak pernah menganjurkan umat untuk meninggalkan dunia sama sekali. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Dari Basrah, seorang sufi besar mengajarkan bahwa kunci semua keluhan hidup hanya satu: kembali kepada Tuhan.
Basrah, sebuah kota berdebu di tepi Sungai Tigris, menjadi panggung lahirnya salah satu sufi besar yang jejaknya terus dikenang lebih dari seribu tahun kemudian. Ia dikenal dengan nama Hasan Al-Bashri, ulama tabiin yang menjadi simbol zuhud, kebijaksanaan, dan keberanian moral di awal masa kekhalifahan Umayyah.
Hasan lahir di Madinah, tahun 21 Hijriah (642 M), dari orang tua yang dekat dengan keluarga Nabi. Ayahnya pernah menjadi pembantu Zaid bin Tsabit, juru tulis wahyu, dan ibunya, Khairoh, adalah pelayan Ummu Salamah, salah satu istri Rasulullah. Pada usia remaja, Hasan pindah ke Basrah dan menetap di sana sampai akhir hayatnya. Dari kota inilah, namanya dikenang sebagai Hasan Al-Bashri, Hasan dari Basrah.
Ia belajar langsung dari para sahabat Nabi: Utsman bin Affan, Abdullah bin Abbas, Ali bin Abi Thalib, Abu Musa Al-Asy’ari, Anas bin Malik, Jabir bin Abdullah, dan Abdullah bin Umar. Wafat pada Jumat, 5 Rajab 110 H (728 M), di usia 89 tahun, Hasan meninggalkan bukan hanya ilmu, tetapi juga teladan cara hidup yang sederhana, khutbah-khutbah yang menjadi permata sastra Arab, dan satu keyakinan yang tak pernah goyah: dunia hanyalah persinggahan menuju akhirat.
Baca juga: Nasihat Penuh Hikmah Hasan Al-Bashri kepada Penguasa Irak Umar bin Hubairah
Semua Keluhan, Satu Jawaban
Cerita paling populer tentang Hasan Al-Bashri mungkin adalah tentang bagaimana ia merespons segala macam persoalan umat dengan satu resep yang sama.
Basrah, sebuah kota berdebu di tepi Sungai Tigris, menjadi panggung lahirnya salah satu sufi besar yang jejaknya terus dikenang lebih dari seribu tahun kemudian. Ia dikenal dengan nama Hasan Al-Bashri, ulama tabiin yang menjadi simbol zuhud, kebijaksanaan, dan keberanian moral di awal masa kekhalifahan Umayyah.
Hasan lahir di Madinah, tahun 21 Hijriah (642 M), dari orang tua yang dekat dengan keluarga Nabi. Ayahnya pernah menjadi pembantu Zaid bin Tsabit, juru tulis wahyu, dan ibunya, Khairoh, adalah pelayan Ummu Salamah, salah satu istri Rasulullah. Pada usia remaja, Hasan pindah ke Basrah dan menetap di sana sampai akhir hayatnya. Dari kota inilah, namanya dikenang sebagai Hasan Al-Bashri, Hasan dari Basrah.
Ia belajar langsung dari para sahabat Nabi: Utsman bin Affan, Abdullah bin Abbas, Ali bin Abi Thalib, Abu Musa Al-Asy’ari, Anas bin Malik, Jabir bin Abdullah, dan Abdullah bin Umar. Wafat pada Jumat, 5 Rajab 110 H (728 M), di usia 89 tahun, Hasan meninggalkan bukan hanya ilmu, tetapi juga teladan cara hidup yang sederhana, khutbah-khutbah yang menjadi permata sastra Arab, dan satu keyakinan yang tak pernah goyah: dunia hanyalah persinggahan menuju akhirat.
Baca juga: Nasihat Penuh Hikmah Hasan Al-Bashri kepada Penguasa Irak Umar bin Hubairah
Semua Keluhan, Satu Jawaban
Cerita paling populer tentang Hasan Al-Bashri mungkin adalah tentang bagaimana ia merespons segala macam persoalan umat dengan satu resep yang sama.