Syukur yang Lahir, Syukur yang Batin: Bukan Hanya dengan Lidah
Miftah yusufpati
Sabtu, 12 Juli 2025 - 05:45 WIB
Di balik sujud syukur, ada kesadaran bahwa semua nikmat hanya titipan. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Di banyak mimbar, orang diingatkan: “Kalau dapat nikmat, jangan lupa bersyukur!” Di meja makan, di podium wisuda, di balik mikrofon saat memenangi penghargaan, ucapan yang paling sering terdengar adalah “Alhamdulillah.” Namun, bagi Al-Qur’an, syukur jauh lebih luas dari sekadar satu kata di ujung lidah.
Di dalam surat Al-Baqarah ayat 152, Tuhan berfirman: “Bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kalian mengingkari nikmat-Ku.” Ayat ini kerap dijadikan sandaran untuk menegaskan bahwa segala bentuk syukur, pada akhirnya, memang harus kembali kepada-Nya.
Tapi tafsir yang jernih menunjukkan bahwa Allah sendiri, lewat firman-Nya dalam surat Luqman ayat 14, juga menyebut nama lain yang wajib disyukuri: kedua orang tua. “Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada-Ku kembalimu.”
Ini semacam konfirmasi bahwa nikmat selalu sampai kepada kita lewat perantara-perantara: ibu yang melahirkan, guru yang mengajarkan huruf, tetangga yang membantu di saat susah, petani yang menanam padi. Dan Al-Qur’an meminta kita tidak hanya melihat kepada Pemberi Utama, tetapi juga menghormati tangan-tangan yang membawakan rezeki itu ke pangkuan kita.
Rasulullah bahkan menegaskan dengan kalimat yang lebih lugas, sebagaimana diriwayatkan oleh Ahmad: “Siapa yang tidak bersyukur kepada manusia, ia tidak bersyukur kepada Allah.”
Baca juga: Syukur: Membuka Pintu Nikmat, Menutup Celah Kufur
Untung bagi Diri, Bukan untuk Tuhan
Di dalam surat Al-Baqarah ayat 152, Tuhan berfirman: “Bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kalian mengingkari nikmat-Ku.” Ayat ini kerap dijadikan sandaran untuk menegaskan bahwa segala bentuk syukur, pada akhirnya, memang harus kembali kepada-Nya.
Tapi tafsir yang jernih menunjukkan bahwa Allah sendiri, lewat firman-Nya dalam surat Luqman ayat 14, juga menyebut nama lain yang wajib disyukuri: kedua orang tua. “Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada-Ku kembalimu.”
Ini semacam konfirmasi bahwa nikmat selalu sampai kepada kita lewat perantara-perantara: ibu yang melahirkan, guru yang mengajarkan huruf, tetangga yang membantu di saat susah, petani yang menanam padi. Dan Al-Qur’an meminta kita tidak hanya melihat kepada Pemberi Utama, tetapi juga menghormati tangan-tangan yang membawakan rezeki itu ke pangkuan kita.
Rasulullah bahkan menegaskan dengan kalimat yang lebih lugas, sebagaimana diriwayatkan oleh Ahmad: “Siapa yang tidak bersyukur kepada manusia, ia tidak bersyukur kepada Allah.”
Baca juga: Syukur: Membuka Pintu Nikmat, Menutup Celah Kufur
Untung bagi Diri, Bukan untuk Tuhan