home global news

Indonesia dan Prancis Perkuat Kolaborasi Budaya melalui Kerja Sama Strategis di Bidang Perfilman

Rabu, 16 Juli 2025 - 09:48 WIB
Indonesia dan Prancis Perkuat Kolaborasi Budaya melalui Kerja Sama Strategis di Bidang Perfilman
LANGIT7.ID–Jakarta;Dalam rangkaian kunjungan kerja ke Paris, Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon melakukan Dialog Strategis Kebudayaan antara Indonesia dan Prancis (15/07) dengan Menteri Kebudayaan Prancis, Madame Rachida Dati. Pertemuan ini dilangsungkan dalam rangka merealisasikan sejumlah kesepakatan bilateral yang terjalin saat kunjungan kenegaraan Madame Rachida Dati ke Indonesia mendampingi Presiden Emmanuel Macron bulan Mei 2025 lalu di Jakarta dan Candi Borobudur.

Sebagai tindak lanjut dari nota kesepahaman (MoU) kerja sama budaya antara Indonesia dan Prancis, Kementerian Kebudayaan RI bersama mitra Prancis seperti CNC (Centre national du cinéma et de l'image animée) dan La Fémis (École Nationale Supérieure des Métiers de l'Image et du Son) menjajaki berbagai inisiatif strategis dalam rangka memperkuat jaringan produksi, transfer teknologi, dan pengembangan kapasitas di bidang film.

Hadir pula dalam pertemuan tersebut, Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya dan beberapa perwakilan sineas dan museum serta wakil dari industri kreatif. Menteri Kebudayaan menegaskan keseriusan pemerintah dalam menindaklanjuti perjanjian kerjasama yang telah ditandatangani beberapa waktu lalu. "Pertemuan ini merupakan diskusi lanjutan yang dimulai dari Festival Film Cannes bulan Mei lalu, yang diikuti dengan kunjungan Presiden Macron ke Indonesia serta diskusi-diskusi intensif dengan perwakilan negara Prancis di Indonesia. Diharapkan terjalin yang kongkret sebagai tindak lanjut dari MoU yang telah ditandatangani oleh kedua negara" ujar Fadli Zon.

Angga Sasongko, mewakili asosiasi produser mengemukakan bahwa salah satu inspirasi utama adalah model kerja sama CNC dan Korea Selatan melalui Korean Film Academy (KAFA), yang telah berhasil menginisiasi beasiswa dan pertukaran pelajar. Indonesia melihat potensi besar untuk mengadopsi skema serupa, khususnya dengan melibatkan sembilan institusi pendidikan seni di tanah air yang memiliki program studi film, seperti ISI Padang Panjang, IKJ, UMN, dan Institut Kesenian Makassar.

Selain jalur pendidikan formal, kerja sama dengan Prancis ini juga bisa dirancang untuk membuka peluang melalui jalur non-formal seperti MTN (Manajemen Talenta Nasional), dan bekerja sama dengan festival film terkemuka seperti JAFF (Jogja-NETPAC Asian Film Festival), JFW (Jakarta Film Week), Minikino serta festival film lainnya di Indonesia.

"Bentuk kerja sama yang potensial dijajaki antara lain residensi tahunan untuk penulis, sutradara, dan produser; dan program pertukaran mahasiswa dan dosen audiovisual yang diperkuat dengan MoU. Untuk ko-produksi, kita perlu mengeksplorasi struktur dan model kerja sama yang telah dilakukan oleh CNC dengan negara lain seperti Korea, untuk diadopsi sesuai kebutuhan industri perfilman di Indonesia," ungkap produser film Jumbo, Angga Sasongko.

Senada dengan Angga, Asmara Abigail juga memaparkan beberapa praktik baik hasil ko-produksi dengan Prancis, antara lain Film Setan Jawa karya Garin Nugroho, Autobiography karya Makbul Mubarak. "Ko-produksi ini selain mendorong perluasan target penonton untuk film-film Indonesia, juga dapat mendorong pertukaran budaya melalui film," ujar aktris yang memulai debut film panjangnya di film Setan Jawa.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya