Islam Ala Prabowo: Pandangan Dua Tokoh NU-Muhammadiyah (4)
Tim langit 7
Kamis, 17 Juli 2025 - 08:34 WIB
Islam Ala Prabowo: Pandangan Dua Tokoh NU-Muhammadiyah (4)
LANGIT7.ID-Tulisan kedua yang dinukilkan dari pandangan Prof Dr Abdul Mu'ti tentang ke Islaman Presiden Prabowo lebih menarik lagi. Ada istilah bukan Islam omon omon. Kata omon omon memang sedang ngetrend, bahkan Presiden Prabowo sendiri termasuk yang "memproduksi" istilah tersebut. Idiom ini juga sering digunakan Presiden dalam kontek untuk menegaskan, meyakinkan dan memastikan bahwa apa yang diperjuangkan oleh Presiden dalam visinya membangun bangsa bukan sekadar artifisial atau proforma, tetapi implementatif dalam aksi nyata.
Maka, tatkala idiom omon omon dipilih sebagai warna dalam sebuah tulisan menjadi lebih menarik. Memang benar, apa yang disampaikan Prof Mu'ti memiliki dasar yang kuat: Islam ala Presiden Prabowo bukan Islam omon-omon. Islam yang diimplementasikan bukan Islam normatif melainkan Islam historis yang transformatif yang berorientasi aksi nyata atau solusi untuk rakyat.
Prof Mu'ti juga menyebutnya Presiden Prabowo sebagai muslim patriotik yang secara konsisten berpegang teguh pada ajaran agamanya. Dalam hal ini kebaikan (ihsan) dan keadilan ('adl), namun dalam kesempatan yang sama Presiden Prabowo juga tetap kuat nasionalismenya dalam berbangsa dan bernegara.
Baca juga: Islam Ala Prabowo: Pandangan Dua Tokoh NU-Muhammadiyah (3)
Dalam banyak kesempatan pidato-pidatonya, Presiden Prabowo melontarkan dan menekankan pentingnya sikap patriotisme. Di tengah banyaknya istilah untuk mengidentifikasi ke Islaman seseorang, mulai dari muslim progresif, muslim tradisionalis, muslim modernis, muslim konservatif, muslim militan, bahkan muslim radikal. Maka, Prof Mu'ti merasa istilah Islam patriotik untuk memberikan brand pada ke Islaman Presiden Prabowo adalah sangat tepat.
Dalam tulisan Prof Mu'ti juga dijabarkan tentang visi syariah dalam asta cita, namun langit7.id hanya menukilkan beberapa visi saja yang memang menjadi hot isu dalam masyarakat.
Seperti visi Presiden Prabowo dalam komitmen keagamaan, di mana dalam maqashid syariah disebut dengan hifzh ad-din, yaitu jaminan hak-hak dan kebebasan beragama atau berkeyakinan. Komitmen keagamaan Presiden Prabowo dijelaskan Prof Mu'ti dapat ditemukan dalam asta cita ke delapan,"memperkuat penyelarasan kehidupan yang harmonis dengan lingkungan, alam, budaya, serta peningkatan toleransi antar umat beragama untuk mencapai masyarakat yang adil dan makmur."
Maka, tatkala idiom omon omon dipilih sebagai warna dalam sebuah tulisan menjadi lebih menarik. Memang benar, apa yang disampaikan Prof Mu'ti memiliki dasar yang kuat: Islam ala Presiden Prabowo bukan Islam omon-omon. Islam yang diimplementasikan bukan Islam normatif melainkan Islam historis yang transformatif yang berorientasi aksi nyata atau solusi untuk rakyat.
Prof Mu'ti juga menyebutnya Presiden Prabowo sebagai muslim patriotik yang secara konsisten berpegang teguh pada ajaran agamanya. Dalam hal ini kebaikan (ihsan) dan keadilan ('adl), namun dalam kesempatan yang sama Presiden Prabowo juga tetap kuat nasionalismenya dalam berbangsa dan bernegara.
Baca juga: Islam Ala Prabowo: Pandangan Dua Tokoh NU-Muhammadiyah (3)
Dalam banyak kesempatan pidato-pidatonya, Presiden Prabowo melontarkan dan menekankan pentingnya sikap patriotisme. Di tengah banyaknya istilah untuk mengidentifikasi ke Islaman seseorang, mulai dari muslim progresif, muslim tradisionalis, muslim modernis, muslim konservatif, muslim militan, bahkan muslim radikal. Maka, Prof Mu'ti merasa istilah Islam patriotik untuk memberikan brand pada ke Islaman Presiden Prabowo adalah sangat tepat.
Dalam tulisan Prof Mu'ti juga dijabarkan tentang visi syariah dalam asta cita, namun langit7.id hanya menukilkan beberapa visi saja yang memang menjadi hot isu dalam masyarakat.
Seperti visi Presiden Prabowo dalam komitmen keagamaan, di mana dalam maqashid syariah disebut dengan hifzh ad-din, yaitu jaminan hak-hak dan kebebasan beragama atau berkeyakinan. Komitmen keagamaan Presiden Prabowo dijelaskan Prof Mu'ti dapat ditemukan dalam asta cita ke delapan,"memperkuat penyelarasan kehidupan yang harmonis dengan lingkungan, alam, budaya, serta peningkatan toleransi antar umat beragama untuk mencapai masyarakat yang adil dan makmur."