home masjid

Di Sini Eropa Dilahirkan, di Sana Islam Terluka

Ahad, 20 Juli 2025 - 05:15 WIB
Eropa, dalam banyak hal, adalah anak dari kebencian itu. Dan Islam, adalah saksi bisu dari luka yang diwariskan sejarah. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Suatu hari di akhir abad ke-11, lonceng-lonceng gereja berdentang di seluruh benua Eropa. Di Clermont, Paus Urbanus II menyeru, dan beribu-ribu orang menyahut: “Deus vult!” — Tuhan menghendakinya. Kata-kata itu bukan sekadar pekik perang; ia adalah isyarat lahirnya kesadaran baru di Eropa, sekaligus pembuka luka panjang bagi dunia Islam.

Itulah permulaan dari apa yang kelak dikenal sebagai Perang Salib. Tabrakan besar pertama antara sekutu Eropa dan Islam. Kala itu Eropa sedang bangun dari tidur panjang Abad Kegelapan. Kekaisaran Romawi sudah runtuh, peradaban Eropa masih gamang, baru saja belajar berdiri sendiri.

Kesusasteraan baru berkuncup, kesenian masih meraba-raba keluar dari reruntuhan Goth, Hun, dan Avar. Gereja memimpin, namun di bawah permukaan mulai berdenyut kesadaran kultural yang segar.

Dan tepat di saat rapuh-rapuhnya masa kanak-kanak itu, Eropa bertemu — lebih tepatnya, berbenturan — dengan dunia Islam. Bagi Eropa, inilah perang besar pertama yang disadari secara kolektif.



Baca juga: Islam di Simpang Jalan: Warisan Kebencian yang Panjang

Sebelum itu sudah ada perjumpaan di perbatasan: Arab menaklukkan Sisilia, Spanyol, menyerbu hingga Poitiers. Namun semua itu hanya terasa sebagai insiden setempat, belum memberi guncangan psikologis yang mendalam.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya