Perempuan Saudara Kandung Laki-Laki: Menafsir Ulang Karakteristik Wanita Muslimah
Miftah yusufpati
Selasa, 22 Juli 2025 - 17:00 WIB
Wanita adalah saudara kandung laki-laki. Ilustrasi: Arab News
LANGIT7.ID-Di antara para sahabat yang duduk di masjid Nabawi itu, seorang perempuan dengan keberanian yang tak biasa mengangkat tangannya. Ia bertanya langsung kepada Rasulullah SAW: “Wahai Rasul, mengapa kebanyakan dari kami disebut penghuni neraka?” (Sahih Bukhari, Kitab al-Iman).
Pertanyaan itu membekas hingga hari ini, menjadi salah satu momen penting dalam sejarah kesetaraan spiritual antara laki-laki dan perempuan dalam Islam. Jawaban Rasulullah kala itu tak datang dengan cemoohan atau kemarahan, tetapi dengan penjelasan penuh kasih: “Sebenarnya wanita itu adalah saudara kandung laki-laki.” (HR Abu Daud, no. 236).
Kalimat itu, meski sederhana, seperti meruntuhkan tembok prasangka yang sudah lama bercokol di masyarakat Arab kala itu. Rasulullah menegaskan: perempuan dan laki-laki memiliki martabat yang setara di hadapan Allah, dengan kekhususan masing-masing.
Di zaman Nabi, perempuan bukan sekadar pelengkap di balik layar. Mereka memahami bahwa karakteristik mereka telah digariskan Islam: sebagai makhluk yang mulia, yang memiliki hak untuk belajar, berperan, bahkan ikut dalam jihad dalam bentuk yang sesuai.
Baca juga: Kisah Humor Sufi Nasrudin Hoja: Mana Lelaki, Mana Perempuan?
Khadijah binti Khuwailid menopang dakwah Rasul dengan hartanya dan keberaniannya (Ibn Hisham, Sirah Nabawiyyah). Aisyah binti Abu Bakar menjadi periwayat ilmu, tempat para sahabat laki-laki belajar (Sahih Bukhari, lebih dari 2.000 hadits melalui Aisyah). Ummu Salamah ikut menyusun strategi ketika kaum muslimin kebingungan di Hudaibiyah (Ibn Kathir, Al-Bidayah wa al-Nihayah).
Pandangan Rasulullah soal perempuan jelas dan tegas: tidak ada diskriminasi dalam martabat. Dalam Al-Qur’an, Surah Al-Ahzab ayat 35 menyebutkan laki-laki dan perempuan beriman sejajar dalam derajat dan pahala: “Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin… Allah telah menyediakan bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.”
Pertanyaan itu membekas hingga hari ini, menjadi salah satu momen penting dalam sejarah kesetaraan spiritual antara laki-laki dan perempuan dalam Islam. Jawaban Rasulullah kala itu tak datang dengan cemoohan atau kemarahan, tetapi dengan penjelasan penuh kasih: “Sebenarnya wanita itu adalah saudara kandung laki-laki.” (HR Abu Daud, no. 236).
Kalimat itu, meski sederhana, seperti meruntuhkan tembok prasangka yang sudah lama bercokol di masyarakat Arab kala itu. Rasulullah menegaskan: perempuan dan laki-laki memiliki martabat yang setara di hadapan Allah, dengan kekhususan masing-masing.
Di zaman Nabi, perempuan bukan sekadar pelengkap di balik layar. Mereka memahami bahwa karakteristik mereka telah digariskan Islam: sebagai makhluk yang mulia, yang memiliki hak untuk belajar, berperan, bahkan ikut dalam jihad dalam bentuk yang sesuai.
Baca juga: Kisah Humor Sufi Nasrudin Hoja: Mana Lelaki, Mana Perempuan?
Khadijah binti Khuwailid menopang dakwah Rasul dengan hartanya dan keberaniannya (Ibn Hisham, Sirah Nabawiyyah). Aisyah binti Abu Bakar menjadi periwayat ilmu, tempat para sahabat laki-laki belajar (Sahih Bukhari, lebih dari 2.000 hadits melalui Aisyah). Ummu Salamah ikut menyusun strategi ketika kaum muslimin kebingungan di Hudaibiyah (Ibn Kathir, Al-Bidayah wa al-Nihayah).
Pandangan Rasulullah soal perempuan jelas dan tegas: tidak ada diskriminasi dalam martabat. Dalam Al-Qur’an, Surah Al-Ahzab ayat 35 menyebutkan laki-laki dan perempuan beriman sejajar dalam derajat dan pahala: “Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin… Allah telah menyediakan bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.”