home masjid

Tasawuf Menurut Syaikh Al-Qardhawi: Jejak Sunyi Menuju Cahaya

Kamis, 24 Juli 2025 - 16:17 WIB
Tasawuf adalah seperti cermin. Ia bisa memantulkan cahaya langit, atau menipu bayang sendiri. Semua bergantung pada siapa yang memegangnya. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Di tengah kecamuk zaman yang membelah antara bentuk dan batin, tasawuf hadir sebagai jalan sunyi, namun tak sepi perdebatan. Antara mereka yang memujanya setinggi langit, dan yang menolaknya sekeras batu.

Di suatu pagi yang basah di Basra, sekitar abad ke-2 Hijriah, seorang perempuan menggenggam cintanya kepada Tuhan dengan bahasa yang tak lumrah. Namanya Rabi'ah Al-Adawiyah. Ia bukan ulama, bukan filsuf, namun di tangannya tasawuf mengalir sebagai puisi dan api. Ia berkata: “Aku tidak menyembah Allah karena takut neraka, atau ingin surga. Aku menyembah karena cinta.”

Pernyataan itu seperti membelah dua zaman. Di satu sisi, ia melambangkan keikhlasan yang murni—sebuah lompatan batin dalam tradisi Islam. Di sisi lain, ia memantik gelombang debat yang tak kunjung reda hingga hari ini: adakah tasawuf itu jalan kebenaran atau jalan menyimpang?

Baca juga: Tasawuf: Di Antara Kekhusyukan dan Kesesatan

Asal-Usul: Warisan Sahabat, Wujud Baru

Tasawuf bukan barang impor. Ia bukan saduran dari Hindu, Budha, atau Kristen, sebagaimana dituduhkan oleh sebagian pengkritiknya. Jejak awal tasawuf dapat ditelusuri langsung dari kehidupan Rasulullah SAW dan para sahabatnya. Kehidupan sederhana Abu Dzar, ketakwaan Salman Al-Farisi, keteguhan Umar bin Khattab, semua menyimpan ruh yang hari ini kita sebut sebagai “zuhud”.

Dalam Fatawa Qardhawi, disebutkan bahwa para sahabat mempelajari agama Islam secara utuh: syariat, akhlak, hingga batin. “Tiada satu bagian pun yang tidak dipelajari dan dipraktikkan,” tulis Syaikh Yusuf Qardhawi.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya