Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Ahad, 24 Mei 2026
home masjid detail berita

Tasawuf: Di Antara Kekhusyukan dan Kesesatan

miftah yusufpati Rabu, 23 Juli 2025 - 05:45 WIB
Tasawuf: Di Antara Kekhusyukan dan Kesesatan
Tasawuf bukan jalan sesat jika tetap berpijak pada Quran dan Sunnah. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Di sebuah zawiyah di kaki Pegunungan Atlas, Maroko, para murid duduk bersila. Wajah mereka tenang, bibir berzikir, sesekali air mata menetes. Di sudut lain dunia, di sebuah forum media sosial, komentar pedas terlontar: “Tasawuf itu bid’ah! Banyak yang tersesat karenanya!”

Tasawuf, yang sering diartikan sebagai jalan spiritual menuju Tuhan, memang menyimpan jalan berliku. Antara yang lurus seperti ditunjukkan para nabi dan sahabat Rasulullah SAW, dan yang menyimpang seperti dilakukan mereka yang terlalu larut dalam ekstase rohaninya.

Menurut Syaikh Yusuf al-Qardhawi dalam Permasalahan, Pemecahan dan Hikmah (Risalah Gusti), tasawuf pada hakikatnya adalah perhatian penuh terhadap dimensi rohani, ibadah, akhlak, dan kemurnian hati. Dalam kitab itu disebutkan bahwa manusia terdiri dari tiga unsur: roh, akal, dan jasad — dan semuanya butuh haknya masing-masing.

Nabi Muhammad sendiri mengingatkan Abdullah bin Amr bin Ash, yang berpuasa tanpa henti, beribadah semalam suntuk, dan meninggalkan keluarganya. Sabda beliau yang diriwayatkan Qardhawi dalam Fatawa: “Sesungguhnya bagi dirimu ada hak, bagi keluargamu ada hak, bagi jasadmu ada hak. Maka berikanlah hak kepada masing-masing.”

Baca juga: Tasawuf: Menyusuri Jalan Sufi di Zaman Digital

Islam datang membawa keseimbangan antara dunia rohani dan dunia nyata, antara akal dan rasa. Itu pula sebabnya, para sufi yang lurus selalu berjalan di atas timbangan Al-Qur’an dan Sunnah.

Warisan yang Luhur

Dalam buku yang sama, Qardhawi menyebutkan bahwa banyak orang masuk Islam karena pengaruh para sufi. Mereka yang durhaka kembali bertobat oleh sentuhan para sufi. Dunia Islam pun diwarisi harta karun rohani: akhlak, makrifat, literatur makna, dan pengalaman spiritual yang dalam. Nama-nama seperti Al-Ghazali, Ismail Al-Harawi, hingga Ibnul Qayyim tampil bukan hanya sebagai sufi, tetapi juga pengawal akidah.

Di tengah masyarakat yang makin materialistis, para sufi muncul sebagai pengingat: bahwa hidup tak hanya tentang angka dan harta, tetapi juga tentang membersihkan hati dan mengenal Tuhan.

Al-Ghazali, dalam Ihya Ulumuddin, mengingatkan pentingnya “penyembuhan jiwa” dengan ilmu akhlak yang murni, sembari tetap berpegang pada syariat.

Baca juga: 3 Tahapan Penyucian Jiwa dalam Tasawuf: Ta’alluq, takhalluq, dan tahaqquq

Jalan yang Menyimpang

Namun, bukan berarti semua sufi berjalan di jalan yang lurus. Dalam Fatawa Qardhawi dijelaskan, sebagian mereka yang terlalu berlebihan terjerumus pada ajaran yang menyimpang. Di antaranya yang menempatkan gurunya setara Tuhan, atau yang menganggap syariat lahiriah tak lagi penting setelah mencapai *maqam* tertentu.

Sebagian bahkan memandang murid kepada guru layaknya mayat di tangan pemandi jenazah — total pasrah. Jika tidak diimbangi ilmu dan akal sehat, hal ini melahirkan kesesatan.

Tasawuf dalam pandangan moderat, seperti dikemukakan dalam Madaarijus-Saalikin karya Ibnul Qayyim, adalah bagian dari Islam. Yang murni, jernih, dan menenangkan. Jalan yang sehat adalah jalan yang menggabungkan makrifat, ibadah, cinta, akhlak, dan sunnah Nabi.

Kita boleh mengambil yang baik: ketaatan kepada Allah, cinta kepada makhluk, makrifat terhadap kelemahan diri, mengenal tipu daya setan, dan ikhlas. Dan kita wajib menjauhi yang menyimpang: mengaku melihat Tuhan tanpa syariat, meremehkan hukum, atau menganggap dirinya telah sampai pada derajat yang membebaskan dari kewajiban.

Baca juga: Tasawuf: 5 Makna Asal Kata Sufi, Salah Satunya Suf atau Kain Wol

Al-Ghazali sendiri menulis bahwa tasawuf itu “seperti garam di laut. Ia memberi rasa, tanpa membuat air jadi tak bisa diminum. Berlebihan? Airnya jadi pahit. Tak ada sama sekali? Hambar.”

Maka, tasawuf bukan jalan sesat jika tetap berpijak pada Qur’an dan Sunnah. Sebaliknya, ia bisa jadi pelita di tengah gelapnya dunia yang terlalu riuh oleh akal dan materi.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Ahad 24 Mei 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:53
Ashar
15:14
Maghrib
17:47
Isya
19:00
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)