home masjid

Mengapa Tidak Semua Usaha Manusia Dicatat sebagai Syukur?

Sabtu, 26 Juli 2025 - 04:15 WIB
Syukur, dalam terang Al-Quran, adalah jalan panjang. Tapi itu jalan yang bila ditempuh, bukan hanya mendapat ganjaranmelainkan membuat Allah sendiri bersyukur atas langkah kita. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Di antara banyak konsep moral dalam Al-Qur’an, syukur adalah kata yang sering disebut, tetapi jarang dimaknai lebih dalam. Kita mengenal syukur sebagai ekspresi terima kasih kepada Tuhan, tetapi Al-Qur’an menempatkannya jauh lebih dari itu: sebagai puncak kesadaran manusia, sebagai cermin visi hidup, dan sebagai nilai yang menentukan ujung takdir seseorang.

Dalam surat Al-Isra’ ayat 18–20, Allah membandingkan dua tipe manusia: mereka yang mengejar kehidupan duniawi semata, dan mereka yang mengarahkan usaha untuk akhirat. Kepada yang pertama, Allah tak langsung mengutuk, justru memberikan sesuai yang mereka kehendaki—dalam batas yang ditentukan. Namun kepada yang kedua, Allah memberi ganjaran khusus: mereka itu adalah orang-orang yang usahanya disyukuri.

Kata kunci di sini: "masykur"—disyukuri. Ini bentuk pasif dari "syakara", bukan manusia yang bersyukur kepada Tuhan, tapi Tuhan yang bersyukur atas usaha manusia. Sebuah ungkapan teologis yang mengguncang. Bagaimana mungkin Tuhan—yang Maha Kaya dan Tak Membutuhkan—menyatakan rasa syukur?

Syukur dalam pengertian ini bukan hanya rasa terima kasih, tapi bentuk apresiasi ilahiah terhadap kesungguhan makhluk-Nya. Namun tidak semua usaha manusia mendapat respons ini. Dalam tafsirnya, Quraish Shihab menekankan: usaha yang masykur adalah usaha yang dibangun dari visi jauh ke depan, yang melampaui batas hidup dunia.

Sebaliknya, mereka yang visinya berhenti pada dunia ini—yang menurut istilah Al-Qur’an “menghendaki kehidupan sekarang”—bisa saja memperoleh keberhasilan, tapi stagnan. Tidak berkembang. Karena ujungnya terbatas pada detik dan jam, bukan pada makna dan keabadian. Mereka mandek setelah sukses, jenuh setelah puas, dan rusak oleh rutinitas yang membosankan.

Baca juga: Syukur Sepanjang Waktu: Ketika Alhamdulillah Menjadi Gaya Hidup dan Jalan Kesadaran

Di sinilah akar dari apa yang oleh Quraish Shihab disebut “kehancuran eksistensial”—di mana pencapaian tak lagi memberi makna, dan kemajuan berhenti pada angka-angka. Ia mengibaratkan dunia sekuler modern sebagai contoh: setelah sukses dicapai, justru kekosongan jiwa yang datang. Mereka sibuk membangun luar, tapi rapuh di dalam. Bangunan besar tak mampu menampung jiwa yang kosong.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya