Batik Rifaiyah, Batik Karya Santri Jawa Tengah yang Mendunia
Muhajirin
Senin, 04 Oktober 2021 - 10:34 WIB
Proses membatik batik rifaiyah (foto: MC Batang Jateng)
Batik Rifaiyah merupakan batik karya santri yang kini menembus kancah internasional. Batik merupakan kebanggaan masyarakat Indonesia, terlebih UNESCO telah menetapkan busana bermotif batik itu sebagai warisan kemanusiaan untuk budaya lisan dan nonbendawi pada 2 Oktober 2009.
Batik Rifaiyah yang menjadi kebanggaan masyarakat Indonesia itu berasal dari Desa Kalipucang, Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Mulai pembuatan hingga motif sarat akan makna keagamaan. Dinamakan Batik Rifaiyah karena para pembatik merupakan santri dari Syekh Ahmad Rifai.
Batik Rifaiyah punya beragam corak dan motif yang dihasilkan. Ada jenis Batik Tiga Negeri yakni Lancur, Gemblong Sak Iris, Kotak Kitir, Ila Ili. Ada pula Bang Biron seperti Pelo Ati, Nyak Pratin, Gendakan dan Liris. Para peminatnya tidak hanya dari lokal dan nasional saja, namun hingga ke kancah internasional melalui wisatawan yang datang langsung ke griya batik.
“Tak hanya pecinta batik dalam negeri, sejumlah wisatawan mancanegara pun menaruh perhatian istimewa pada motif-motifnya antara lain dari Jerman, Amerika Serikat, Singapura, Jepang, Thailand, Korea dan masih banyak lagi,” kata Pembatik Rifaiyah, Miftakhutin , dikutip dari laman MC Batang, Jateng, Senin (4/10/2021).
Batik-batik itu dijual mulai dari Rp500 ribu hingga termahal Rp3,5 juta. Pembatik di Desa Kalipucang Wetan sampai saat ini berjumlah 100 orang. Mereka terdiri dari usia 25-70 tahun. Mayoritas pembatik berusia senja, karena jumlah pembatik muda hanya sebanyak 10 orang.
“Untuk regenerasi sejak dini, diperlukan pelatihan khusus mulai dari pihak sekolah yang memasukkan pelajaran membatik ke dalam muatan lokal,” tutur dia.
Miftakhutin, dari Desa Kalipucang Wetan, mengaku sangat termotivasi untuk menghasilkan karya-karya unik lainnya. “Mempertahankan budaya yang telah diwariskan oleh para pendahulu, menjadi tugas penting bagi generasi muda, supaya tidak hilang dan tetap lestari hingga anak cucu pada masa depan,” ujar dia.
Batik Rifaiyah yang menjadi kebanggaan masyarakat Indonesia itu berasal dari Desa Kalipucang, Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Mulai pembuatan hingga motif sarat akan makna keagamaan. Dinamakan Batik Rifaiyah karena para pembatik merupakan santri dari Syekh Ahmad Rifai.
Batik Rifaiyah punya beragam corak dan motif yang dihasilkan. Ada jenis Batik Tiga Negeri yakni Lancur, Gemblong Sak Iris, Kotak Kitir, Ila Ili. Ada pula Bang Biron seperti Pelo Ati, Nyak Pratin, Gendakan dan Liris. Para peminatnya tidak hanya dari lokal dan nasional saja, namun hingga ke kancah internasional melalui wisatawan yang datang langsung ke griya batik.
“Tak hanya pecinta batik dalam negeri, sejumlah wisatawan mancanegara pun menaruh perhatian istimewa pada motif-motifnya antara lain dari Jerman, Amerika Serikat, Singapura, Jepang, Thailand, Korea dan masih banyak lagi,” kata Pembatik Rifaiyah, Miftakhutin , dikutip dari laman MC Batang, Jateng, Senin (4/10/2021).
Batik-batik itu dijual mulai dari Rp500 ribu hingga termahal Rp3,5 juta. Pembatik di Desa Kalipucang Wetan sampai saat ini berjumlah 100 orang. Mereka terdiri dari usia 25-70 tahun. Mayoritas pembatik berusia senja, karena jumlah pembatik muda hanya sebanyak 10 orang.
“Untuk regenerasi sejak dini, diperlukan pelatihan khusus mulai dari pihak sekolah yang memasukkan pelajaran membatik ke dalam muatan lokal,” tutur dia.
Miftakhutin, dari Desa Kalipucang Wetan, mengaku sangat termotivasi untuk menghasilkan karya-karya unik lainnya. “Mempertahankan budaya yang telah diwariskan oleh para pendahulu, menjadi tugas penting bagi generasi muda, supaya tidak hilang dan tetap lestari hingga anak cucu pada masa depan,” ujar dia.