home masjid

Kekhalifahan yang Terlupa: Ketika Alam Tak Lagi Bersahabat

Jum'at, 01 Agustus 2025 - 15:07 WIB
Kehancuran lingkungan menjadi cermin retaknya akhlak manusia. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Di tengah hiruk-pikuk krisis iklim global, wajah bumi tampak semakin muram. Hutan-hutan tropis ditebang demi ekspansi industri, laut-laut tercemar limbah, dan udara dikotori karbon. Dalam banyak seminar, konferensi, dan aksi iklim, kata “tanggung jawab” kerap didengungkan. Namun dalam diskursus Islam, konsep itu telah lebih dulu dikenal lewat satu kata kunci: khalifah.

Dalam buku Wawasan Al-Qur’an, Prof. Dr. M. Quraish Shihab menggarisbawahi bahwa manusia, dalam pandangan Al-Qur’an, adalah wakil Tuhan di bumi. Khalifah yang bertugas menjaga, memelihara, dan mengayomi seluruh ciptaan-Nya. Kekhalifahan bukan hanya soal relasi antar-manusia, melainkan juga tentang interaksi etis dengan lingkungan: dengan binatang, tumbuh-tumbuhan, bahkan benda-benda tak bernyawa.

Namun, akhlak terhadap lingkungan hari ini tampak dikebiri oleh logika eksploitasi. Manusia tidak lagi menunggu bunga mekar atau buah matang sebelum dipetik. Dalam istilah Quraish Shihab, ini sama artinya dengan menghalangi makhluk mencapai tujuan penciptaannya. Alam menjadi objek dominasi, bukan mitra dalam keberlangsungan hidup.

Sikap ini bertentangan dengan etika kosmologis yang diajarkan dalam Islam. Dalam QS Al-An’am ayat 38, Allah menegaskan bahwa seluruh makhluk melata dan burung-burung adalah umat sebagaimana manusia juga umat. Tafsir Al-Qurthubi menekankan, umat di sini berarti sesuatu yang tidak boleh dizalimi. Bahkan dalam kondisi perang, Nabi Muhammad SAW melarang mencabut pepohonan, apalagi menyiksa binatang.

Baca juga: Mendahulukan Orang Lain: Akhlak yang Terlupa dalam Ruang Publik

Larangan ini bukan retorika spiritual kosong. Dalam QS Al-Hasyr ayat 5, ditegaskan bahwa tindakan menebang pohon pun harus dilakukan atas izin Allah, dalam pengertian harus sesuai dengan kemaslahatan. Hal ini mengajarkan bahwa segala tindakan terhadap lingkungan harus mempertimbangkan aspek etis dan tujuan penciptaan.

Kesadaran ini membawa manusia pada pemahaman bahwa segala sesuatu di sekitarnya adalah amanat. Dalam QS At-Takatsur ayat 8, Allah mengingatkan bahwa setiap nikmat akan dimintai pertanggungjawaban. Maka, setiap jengkal tanah, hembusan angin, dan tetes air hujan adalah bagian dari laporan moral manusia di akhirat.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya