Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Sabtu, 11 April 2026
home masjid detail berita

Kekhalifahan yang Terlupa: Ketika Alam Tak Lagi Bersahabat

miftah yusufpati Jum'at, 01 Agustus 2025 - 15:07 WIB
Kekhalifahan yang Terlupa: Ketika Alam Tak Lagi Bersahabat
Kehancuran lingkungan menjadi cermin retaknya akhlak manusia. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Di tengah hiruk-pikuk krisis iklim global, wajah bumi tampak semakin muram. Hutan-hutan tropis ditebang demi ekspansi industri, laut-laut tercemar limbah, dan udara dikotori karbon. Dalam banyak seminar, konferensi, dan aksi iklim, kata “tanggung jawab” kerap didengungkan. Namun dalam diskursus Islam, konsep itu telah lebih dulu dikenal lewat satu kata kunci: khalifah.

Dalam buku Wawasan Al-Qur’an, Prof. Dr. M. Quraish Shihab menggarisbawahi bahwa manusia, dalam pandangan Al-Qur’an, adalah wakil Tuhan di bumi. Khalifah yang bertugas menjaga, memelihara, dan mengayomi seluruh ciptaan-Nya. Kekhalifahan bukan hanya soal relasi antar-manusia, melainkan juga tentang interaksi etis dengan lingkungan: dengan binatang, tumbuh-tumbuhan, bahkan benda-benda tak bernyawa.

Namun, akhlak terhadap lingkungan hari ini tampak dikebiri oleh logika eksploitasi. Manusia tidak lagi menunggu bunga mekar atau buah matang sebelum dipetik. Dalam istilah Quraish Shihab, ini sama artinya dengan menghalangi makhluk mencapai tujuan penciptaannya. Alam menjadi objek dominasi, bukan mitra dalam keberlangsungan hidup.

Sikap ini bertentangan dengan etika kosmologis yang diajarkan dalam Islam. Dalam QS Al-An’am ayat 38, Allah menegaskan bahwa seluruh makhluk melata dan burung-burung adalah umat sebagaimana manusia juga umat. Tafsir Al-Qurthubi menekankan, umat di sini berarti sesuatu yang tidak boleh dizalimi. Bahkan dalam kondisi perang, Nabi Muhammad SAW melarang mencabut pepohonan, apalagi menyiksa binatang.

Baca juga: Mendahulukan Orang Lain: Akhlak yang Terlupa dalam Ruang Publik

Larangan ini bukan retorika spiritual kosong. Dalam QS Al-Hasyr ayat 5, ditegaskan bahwa tindakan menebang pohon pun harus dilakukan atas izin Allah, dalam pengertian harus sesuai dengan kemaslahatan. Hal ini mengajarkan bahwa segala tindakan terhadap lingkungan harus mempertimbangkan aspek etis dan tujuan penciptaan.

Kesadaran ini membawa manusia pada pemahaman bahwa segala sesuatu di sekitarnya adalah amanat. Dalam QS At-Takatsur ayat 8, Allah mengingatkan bahwa setiap nikmat akan dimintai pertanggungjawaban. Maka, setiap jengkal tanah, hembusan angin, dan tetes air hujan adalah bagian dari laporan moral manusia di akhirat.

Dalam relasi vertikal dan horizontal ini, manusia dituntut berlaku bijak, tidak arogan, dan tidak merasa memiliki otoritas mutlak atas alam. Dalam QS Al-Ahqaf ayat 3, Allah menyatakan bahwa penciptaan langit dan bumi bukan tanpa tujuan. Alam ada bukan semata untuk ditaklukkan atau dieksploitasi, tapi untuk dijaga dan disyukuri. Islam tidak mengenal konsep "penaklukan alam" yang lahir dari mitos Yunani dan kemudian diwariskan ke Barat modern.

Penakluk sejati bukanlah manusia, melainkan Tuhan. Dalam QS Az-Zukhruf ayat 13, Allah menegaskan bahwa segala kemudahan dalam menjinakkan alam adalah atas izin-Nya: “Mahasuci Allah yang menjadikan (binatang) ini mudah bagi kami, sedangkan kami sendiri tidak mempunyai kemampuan untuk itu.”* Manusia, dalam hal ini, hanyalah peminjam kekuatan.

Konsep ini diperhalus oleh kebiasaan Nabi Muhammad yang bahkan memberikan nama pada benda-benda miliknya. Dalam simbolisme tersebut, ada pengakuan akan eksistensi dan martabat setiap makhluk. Memberi nama bukan sekadar adat, tetapi bentuk penghormatan yang berakar dari kesadaran spiritual bahwa setiap ciptaan Allah punya nilai. Bahkan sebelum Eropa mengenal organisasi perlindungan binatang, Nabi sudah bersabda: “Bertakwalah kepada Allah dalam perlakuanmu terhadap binatang, kendarailah, dan beri makanlah dengan baik.”

Baca juga: Mencari Akhlak di Antara Tuhan dan Tumbuhan Menurut Quraish Shihab

Pandangan Quraish Shihab juga menekankan prinsip taskhir atau penundukan alam. Tapi ia memperingatkan bahwa "penundukan" dalam Islam tidak identik dengan perendahan. QS Al-Hujurat ayat 11, misalnya, mengecam tindakan satu kaum yang merendahkan kaum lainnya. Maka, ketika QS Al-Jatsiyah ayat 13 menyebut bahwa seluruh ciptaan telah ditundukkan bagi manusia, itu bukan berarti manusia boleh memperbudaknya secara sewenang-wenang. Sebaliknya, manusia justru harus *tidak tunduk* pada benda-benda dunia, seberapa pun tingginya nilai material mereka.

Di titik inilah akhlak dan keberagamaan bertemu. Dalam hadis riwayat At-Tirmidzi, Nabi SAW bersabda: “Tidak ada sesuatu yang lebih berat dalam timbangan (amal) seorang mukmin pada hari kiamat, melebihi akhlak yang luhur.” Artinya, keberagamaan seseorang bukan diukur dari seberapa banyak ritualnya, tapi seberapa dalam akhlaknya, termasuk terhadap lingkungan.

Dalam sabda lain, Rasul bersabda: “Agama adalah hubungan interaksi yang baik.” Dalam relasi dengan alam, interaksi itu menuntut kelembutan, tanggung jawab, dan kehati-hatian. Keberislaman bukan hanya soal langit, tetapi juga soal bumi. Menjadi Muslim sejati berarti menjadi penjaga harmoni alam.

Namun hari ini, kehancuran lingkungan menjadi cermin retaknya akhlak manusia. Hutan yang dibabat, sungai yang dicemari, binatang yang punah, adalah tanda kita telah gagal menjalankan tugas kekhalifahan. Dan karena itu pula, mungkin kita telah gagal sebagai manusia.

Baca juga: Kaya Tanpa Meminta, Perkasa Tanpa Menindas: Berakhlaklah dengan Akhlak Allah

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Sabtu 11 April 2026
Imsak
04:29
Shubuh
04:39
Dhuhur
11:57
Ashar
15:14
Maghrib
17:57
Isya
19:06
Lihat Selengkapnya
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)