Abu Nawas dan Strategi Gelayutan: Mengelabui Mimpi Sang Raja
Miftah yusufpati
Sabtu, 02 Agustus 2025 - 05:45 WIB
Kisah ini mengajarkan bahwa kecerdasan, kesabaran, dan sedikit rasa humor bisa menjadi senjata ampuh dalam menghadapi ketidakadilan. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Dari semua kisah Abu Nawas yang kocak tapi berisi, mungkin inilah yang paling membuat Baginda Raja Harun Al Rasyid mengelus dada dan... gigi gerahamnya sendiri.
Suatu pagi, langit Baghdad belum benar-benar cerah ketika Harun Al Rasyid bangun dari tidurnya dengan wajah muram. Mimpi semalam begitu mengganggunya. Ia mengaku melihat seorang lelaki tua berjubah putih berkata: "Selama Abu Nawas masih berada di negeri ini, bencana tak akan berhenti menimpa negeri Baghdad."
Sebagai raja yang konon sangat bijak tapi kadang terlalu percaya mimpi, Harun Al Rasyid segera membuat keputusan yang tak bisa diganggu gugat: usir Abu Nawas dari Baghdad!
Namun bukan Harun Al Rasyid kalau tak menambahkan syarat yang membingungkan. Abu Nawas memang harus pergi, tapi tidak boleh berjalan kaki, tidak boleh berlari, tidak boleh merangkak, melompat, atau menunggang keledai dan binatang apa pun.
Syarat yang tampaknya sengaja dibuat untuk memastikan si penyair licin itu tak bisa kembali.
Baca juga: Saat Raja Memesan Mahkota Surga dan Abu Nawas Menjawab dengan Canda Berhikmah
Berbekal roti keras, air seteko, dan pelukan istrinya yang basah air mata, Abu Nawas pun berangkat, meninggalkan Baghdad dengan wajah pasrah namun hati yang penuh tanya. Dua hari ia menunggang keledainya keluar negeri—belum termasuk istirahat buat salat dan debat kecil dengan keledainya yang keras kepala.
Suatu pagi, langit Baghdad belum benar-benar cerah ketika Harun Al Rasyid bangun dari tidurnya dengan wajah muram. Mimpi semalam begitu mengganggunya. Ia mengaku melihat seorang lelaki tua berjubah putih berkata: "Selama Abu Nawas masih berada di negeri ini, bencana tak akan berhenti menimpa negeri Baghdad."
Sebagai raja yang konon sangat bijak tapi kadang terlalu percaya mimpi, Harun Al Rasyid segera membuat keputusan yang tak bisa diganggu gugat: usir Abu Nawas dari Baghdad!
Namun bukan Harun Al Rasyid kalau tak menambahkan syarat yang membingungkan. Abu Nawas memang harus pergi, tapi tidak boleh berjalan kaki, tidak boleh berlari, tidak boleh merangkak, melompat, atau menunggang keledai dan binatang apa pun.
Syarat yang tampaknya sengaja dibuat untuk memastikan si penyair licin itu tak bisa kembali.
Baca juga: Saat Raja Memesan Mahkota Surga dan Abu Nawas Menjawab dengan Canda Berhikmah
Berbekal roti keras, air seteko, dan pelukan istrinya yang basah air mata, Abu Nawas pun berangkat, meninggalkan Baghdad dengan wajah pasrah namun hati yang penuh tanya. Dua hari ia menunggang keledainya keluar negeri—belum termasuk istirahat buat salat dan debat kecil dengan keledainya yang keras kepala.