Menghindari Taklid Buta, Menjauhi Tafsir Serampangan: Prinsip Ahlus Sunnah
Miftah yusufpati
Kamis, 07 Agustus 2025 - 16:03 WIB
Ahlus Sunnah menolak penggunaan akal semataapalagi rasa atau pengalaman spiritual seperti kasyfjika bertentangan dengan dalil naqli. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Di tengah derasnya arus liberalisme pemikiran dalam agama dan gejolak bid’ah yang tak jarang dikemas dalam kemasan modernitas, kaidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam mengambil dan menggunakan dalil kembali mengemuka sebagai fondasi kokoh umat. Dalam era kebingungan epistemologis, prinsip-prinsip dasar yang ditanamkan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam justru menemukan momentumnya.
Dalam kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas menegaskan bahwa sumber utama ‘aqidah adalah Kitabullah, Sunnah Rasulullah yang shahih, dan ijma’ Salafush Shalih. Tidak ada kompromi di sana. Dalam konteks ini, hadits ahad yang shahih sekalipun memiliki bobot wajib untuk diterima dan diamalkan. Ini bukan bentuk kekakuan, tetapi kepatuhan pada wahyu sebagai sumber kebenaran mutlak.
Prinsip ini merujuk pada firman Allah dalam QS. Al-Hasyr ayat 7: “Dan apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah ia. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah.”
Ketegasan Al-Qur’an ini bukan hanya menjadi penguat dalil, tapi sekaligus menjadi pedoman bagaimana umat memahami kebenaran di tengah opini dan tafsir liar yang sering menjangkiti ruang publik keislaman hari ini.
Baca juga: Sambut Grand Syekh Al-Azhar, Ketum PBNU: Selamat Datang di Negeri Ahlussunnah wal Jamaah
Dalam praktiknya, Ahlus Sunnah menolak penggunaan akal semata—apalagi rasa atau pengalaman spiritual seperti kasyf—jika bertentangan dengan dalil naqli. Mereka menempatkan teks sebagai rujukan utama dalam menentukan sikap keagamaan. Tafsir dan ijtihad tetap ada, tetapi selalu berpijak pada dalil yang shahih dan pemahaman para Salaf.
Sebagaimana ditegaskan dalam QS. An-Nisaa: 65, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
Dalam kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas menegaskan bahwa sumber utama ‘aqidah adalah Kitabullah, Sunnah Rasulullah yang shahih, dan ijma’ Salafush Shalih. Tidak ada kompromi di sana. Dalam konteks ini, hadits ahad yang shahih sekalipun memiliki bobot wajib untuk diterima dan diamalkan. Ini bukan bentuk kekakuan, tetapi kepatuhan pada wahyu sebagai sumber kebenaran mutlak.
Prinsip ini merujuk pada firman Allah dalam QS. Al-Hasyr ayat 7: “Dan apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah ia. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah.”
Ketegasan Al-Qur’an ini bukan hanya menjadi penguat dalil, tapi sekaligus menjadi pedoman bagaimana umat memahami kebenaran di tengah opini dan tafsir liar yang sering menjangkiti ruang publik keislaman hari ini.
Baca juga: Sambut Grand Syekh Al-Azhar, Ketum PBNU: Selamat Datang di Negeri Ahlussunnah wal Jamaah
Dalam praktiknya, Ahlus Sunnah menolak penggunaan akal semata—apalagi rasa atau pengalaman spiritual seperti kasyf—jika bertentangan dengan dalil naqli. Mereka menempatkan teks sebagai rujukan utama dalam menentukan sikap keagamaan. Tafsir dan ijtihad tetap ada, tetapi selalu berpijak pada dalil yang shahih dan pemahaman para Salaf.
Sebagaimana ditegaskan dalam QS. An-Nisaa: 65, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: