home masjid

Ahmadiyah: Mirza Ghulam Ahmad dan Masakan dari Dapur Kolonial

Jum'at, 08 Agustus 2025 - 15:38 WIB
Di Indonesia, perdebatan seputar status Ahmadiyah kerap muncul di ranah publik, terutama saat konflik horizontal terjadi. Pemerintah gamang. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Dibumbui mistik, disajikan dengan rasionalisme, dan disiram loyalitas kepada Inggris, gerakan Ahmadiyah yang didirikan Mirza Ghulam Ahmad kerap dipandang lebih menyerupai produk kolonial ketimbang revolusi spiritual. Dari dapur itulah, masakan ideologisnya menghidang aroma yang membelah umat.

Sukses yang dicapai Ahmadiyah di berbagai wilayah muslim dunia, termasuk Indonesia, telah menyulut rasa tak nyaman di kalangan ulama sejak awal abad ke-20. Gerakan yang dibangun oleh Mirza Ghulam Ahmad itu dianggap tampil kesiangan, namun menyodok ke garis depan.

Sebagaimana dicatat dalam buku Ahmadiyah Telanjang Bulat di Panggung Sejarah karya Abdullah Hasan Alhadar (1980), “daerah-daerah yang dibabatnya bukan hutan lagi”, mengisyaratkan bahwa Ahmadiyah bukan pionir, melainkan pengklaim lahan pemikiran yang telah digarap lebih dulu oleh gerakan Islam lain.

Kecurigaan ulama tidak datang tanpa sebab. Munculnya Ahmadiyah di Qadian, India, pada akhir abad ke-19, menciptakan simpul kontradiktif dalam sejarah reformasi Islam modern. Mirza Ghulam Ahmad mengaku sebagai mujaddid (pembaharu), Mahdi, dan bahkan sebagai penjelmaan Isa Almasih. Namun substansi ajarannya yang menolak jihad bersenjata dan menekankan loyalitas kepada Inggris mencuatkan pertanyaan: siapa sesungguhnya yang dilayani oleh gerakan ini?

Baca juga: Jaga Akidah, Kemenag Diminta Komunikasi ke MUI Soal Baha'i dan Ahmadiyah

Ulama besar seperti Muhammad Iqbal, sebagaimana dikutip dalam Thoughts and Reflections of Iqbal, menyebut Ahmadiyah sebagai “suatu aliran mistik yang aneh, mencakup mistik-mistik bangsa Semit dan Arya.” Bagi Iqbal, Ahmadiyah adalah reaksi terhadap gerakan Aligarh yang dipimpin oleh Sir Syed Ahmad Khan, tokoh rasionalis India yang menjadi pelopor pendidikan Barat bagi umat Islam. “Revivalisme rohani” dalam Ahmadiyah, kata Iqbal, “bukan lagi tentang penyucian jiwa, tetapi tentang memuaskan massa dengan menghadirkan sosok Mesias.”

Kaitannya dengan Sir Syed Ahmad Khan inilah yang menjadi benang merah penting. Maryam Jameelah, seorang penulis Muslimah yang keras mengkritik modernisme Islam, mengatakan Mirza Ghulam “mengambil semua langkah dan ide Sir Syed dan membawanya ke kesimpulan yang ekstrem.” (Islam and Modernism, 1968, hal. 54).
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya