Aktor M. Cholidi Dorong Dai Muda Kuasai Media Digital dan Film untuk Dakwah Efektif
Tim langit 7
Jum'at, 08 Agustus 2025 - 17:53 WIB
Aktor M. Cholidi Dorong Dai Muda Kuasai Media Digital dan Film untuk Dakwah Efektif
LANGIT7.ID-Jakarta; M. Cholidi Asadil Alam, aktor yang dikenal lewat perannya di film Ketika Cinta Bertasbih, menegaskan pentingnya penguasaan media digital dan film bagi para dai muda sebagai sarana dakwah yang efektif. Menurutnya, media ini mampu memengaruhi persepsi publik secara luas.
“Media digital itu adalah weapon, senjata kita dalam berdakwah. Kalau kita tidak kuasai, maka ruangnya akan diisi pihak lain,” ujar Cholidi di hadapan 200 peserta Pembibitan Calon Dai Muda Tahun 2025 di Asrama Haji Pondok Gede, dikutip Jumat (8/8/2025). Peserta tersebut datang dari berbagai daerah di Indonesia.
Cholidi menilai, film memiliki kekuatan lebih dari sekadar hiburan. Baginya, karya sinema adalah media ilmiah yang sanggup membentuk opini, menggerakkan tindakan, hingga memengaruhi gaya hidup masyarakat. Ia mengungkapkan dampak film Ketika Cinta Bertasbih yang ia bintangi sejak 2009 masih terasa hingga kini.
“Saya pernah ke Hong Kong sampai tiga kali untuk berdakwah. Ada yang mendekati saya dan bilang, ‘Ini anak kami, kami beri nama Nasya karena terinspirasi nonton film Ketika Cinta Bertasbih,’” kisahnya.
Cerita lain datang dari Purwakarta. Saat sedang uji coba mobil, ia didatangi seorang warga yang membawa bayi. “Dia bilang, ‘Ini anak saya, saya beri nama Muhammad Cholidi Asadil Alam.’ Lengkap banget, saya sampai bilang, dapat royalti dong saya,” candanya, yang memancing tawa hadirin.
Cholidi menambahkan, dampak film bisa sangat personal. Ia mencontohkan seorang tetangga di Kalimantan yang menamai anaknya Muhammad Almino Asadil Alam karena terinspirasi perjuangan yang ia perankan.
“Film bisa membentuk kedekatan emosional. Bukan hanya dikenal, tapi dikenang. Dan itu semua bisa diarahkan untuk dakwah yang berdampak,” jelasnya.
“Media digital itu adalah weapon, senjata kita dalam berdakwah. Kalau kita tidak kuasai, maka ruangnya akan diisi pihak lain,” ujar Cholidi di hadapan 200 peserta Pembibitan Calon Dai Muda Tahun 2025 di Asrama Haji Pondok Gede, dikutip Jumat (8/8/2025). Peserta tersebut datang dari berbagai daerah di Indonesia.
Cholidi menilai, film memiliki kekuatan lebih dari sekadar hiburan. Baginya, karya sinema adalah media ilmiah yang sanggup membentuk opini, menggerakkan tindakan, hingga memengaruhi gaya hidup masyarakat. Ia mengungkapkan dampak film Ketika Cinta Bertasbih yang ia bintangi sejak 2009 masih terasa hingga kini.
“Saya pernah ke Hong Kong sampai tiga kali untuk berdakwah. Ada yang mendekati saya dan bilang, ‘Ini anak kami, kami beri nama Nasya karena terinspirasi nonton film Ketika Cinta Bertasbih,’” kisahnya.
Cerita lain datang dari Purwakarta. Saat sedang uji coba mobil, ia didatangi seorang warga yang membawa bayi. “Dia bilang, ‘Ini anak saya, saya beri nama Muhammad Cholidi Asadil Alam.’ Lengkap banget, saya sampai bilang, dapat royalti dong saya,” candanya, yang memancing tawa hadirin.
Cholidi menambahkan, dampak film bisa sangat personal. Ia mencontohkan seorang tetangga di Kalimantan yang menamai anaknya Muhammad Almino Asadil Alam karena terinspirasi perjuangan yang ia perankan.
“Film bisa membentuk kedekatan emosional. Bukan hanya dikenal, tapi dikenang. Dan itu semua bisa diarahkan untuk dakwah yang berdampak,” jelasnya.