home masjid

Gerakan Ahmadiyah di Persimpangan Sejarah: Dakwah Global, Polemik Abadi

Senin, 11 Agustus 2025 - 17:00 WIB
Di banyak negara, dari Asia Selatan hingga Eropa, Ahmadiyah menampilkan wajah Islam yang terorganisir, rapi, dan modern. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Di ruang pertemuan sederhana di Qadian, Punjab, India—tempat kelahiran gerakan Ahmadiyah—Naseem Saifi, tokoh Ahmadiyah yang dikenal lantang, pernah melontarkan tantangan keras:

“Coba tunjukkan padaku, apa yang telah dicapai oleh mereka (ulama-ulama) yang memusuhi Ahmadiyah itu? Adakah hasil yang mereka peroleh, ataukah mereka sanggup membendung masuknya orang-orang ke dalam Ahmadiyah? Jelas sekali, mereka telah gagal. Bahkan jika seribu satu macam kitab diterbitkan untuk menentang Ahmadiyah, mereka pasti gagal!” (Naseem Saifi, Our Movement, hlm. 8).

Tantangan itu bukan sekadar retorika. Di banyak negara, dari Asia Selatan hingga Eropa, Ahmadiyah menampilkan wajah Islam yang terorganisir, rapi, dan modern. Mereka mengklaim tak menyimpang “sehelai rambut pun” dari Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad. Dalam buku bantahannya terhadap kritik Ustadz Bakry Wahid, Saleh A. Nahdi menulis bahwa Ahmadiyah memegang rukun Islam dan rukun iman yang sama dengan kaum Muslimin (Saleh A. Nahdi, Ahmadiyah Membantah Tuduhan-tuduhan Ustadz Bakry Wahid, 1972, hlm. 4).

Namun, kesamaan itu disajikan dengan strategi komunikasi yang segar: penerjemahan Al-Qur’an ke bahasa-bahasa dunia—Inggris, Jerman, Prancis, Italia, Spanyol, hingga Persia; pembangunan masjid di Eropa, Amerika, dan Afrika; serta penerbitan buku gratis tentang perbandingan agama dan ekonomi Islam. “Excelent dan menyilaukan,” tulis Abdullah Hasan Alhadar dalam Ahmadiyah Telanjang Bulat di Panggung Sejarah (1980).

Baca juga: Ahmadiyah: Mirza Ghulam Ahmad dan Masakan dari Dapur Kolonial

Strategi Baru, Wajah Baru

Menurut pengamatan Mohammad Iqbal, pujangga besar Islam dari India, para ulama lokal gagal menembus “bagian sebelah dalam” Ahmadiyah karena hanya mengandalkan hujjah teologis (Syed Abdul Wahid, Thoughts and Reflections of Iqbal, hlm. 269). Kritik-kritik berbasis dalil agama membuat Ahmadiyah justru mengubah taktik: menutup perdebatan soal status pendiri mereka, Mirza Ghulam Ahmad, dan menonjolkan kerja-kerja sosial atas nama Islam.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya