Ketika Tarekat Menjadi Konten: Nasib Sufi di Era Budaya Cepat Saji
Miftah yusufpati
Kamis, 21 Agustus 2025 - 17:00 WIB
Sufisme menjawab lapar itu dengan satu syarat: kesungguhan. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Suara seruling mengalun lirih di sebuah ruangan sunyi. Di antara aroma dupa yang samar, sekelompok murid duduk bersila mengelilingi seorang lelaki tua. Lelaki itu, dengan sorban sederhana, menatap tajam, seolah menembus lapisan pikiran murid-muridnya. “Puisi ini hanya suguhan kecil,” katanya sambil mengutip bait Jalaluddin Rumi. “Seperti buah di meja jamuan. Jika kau hanya memakan buahnya, kau akan lapar selamanya.”
Ucapan itu, yang lahir tujuh abad silam, kini terasa ironis. Sebab di era digital, “buah” itulah yang diburu banyak orang. Puisi Rumi dijual di toko buku populer, dijadikan caption Instagram, dan diperdagangkan sebagai mantra cinta. Namun, seperti yang diingatkan Rumi sendiri, puisi bukan tujuan. Ia hanya pintu masuk menuju sesuatu yang lebih dalam—jalan panjang bernama ma’rifat.
“Seorang anak tak punya pengetahuan nyata tentang capaian orang dewasa,” tulis Abu Hamid al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin. “Begitu pula orang awam terhadap pengalaman kaum arif.” Bahkan, kata al-Ghazali, seorang ilmuwan pun tak mampu memahami ekstase seorang sufi. Kalimat itu bukan retorika kosong. Al-Ghazali pernah menempuh seluruh jalan rasional, menekuni filsafat Yunani, sebelum akhirnya menyerah dan memilih sunyi. Baginya, metode akademis “tidak cukup dan kurang bermutu” untuk menyentuh inti realitas.
Baca juga: Kisah Sufi Jalaludin Rumi: Saudagar dan Darwis Kristen
Pada abad ke-11, sang “Hujjatul Islam” mematahkan taring para filosof Muslim yang mabuk logika Aristoteles. Ia menulis Tahafut al-Falasifah (Kerancuan Para Filosof), sebuah pukulan telak yang menggoyang klaim rasionalisme kala itu. Tapi al-Ghazali tak berhenti di kritik. Ia menawarkan jalan lain: Sufisme. Sebuah tradisi yang, menurutnya, bukan sekadar teologi, tapi pengalaman langsung akan Tuhan.
Problem Abadi: Ilmu yang Tak Bisa Dikurung Buku
Sejak awal, Sufisme memang menolak dibatasi oleh teks. Buku, kata mereka, hanya petunjuk kasar. Inti ajaran harus ditransmisikan lewat tatap muka dalam ikatan guru dan murid. Membaca halaman-halaman literatur tanpa bimbingan, bukan hanya keliru, tapi bisa berbahaya. “Waktu singkat bersama sahabat Sufi lebih baik daripada seratus tahun ibadah,” tulis Rumi.
Ucapan itu, yang lahir tujuh abad silam, kini terasa ironis. Sebab di era digital, “buah” itulah yang diburu banyak orang. Puisi Rumi dijual di toko buku populer, dijadikan caption Instagram, dan diperdagangkan sebagai mantra cinta. Namun, seperti yang diingatkan Rumi sendiri, puisi bukan tujuan. Ia hanya pintu masuk menuju sesuatu yang lebih dalam—jalan panjang bernama ma’rifat.
“Seorang anak tak punya pengetahuan nyata tentang capaian orang dewasa,” tulis Abu Hamid al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin. “Begitu pula orang awam terhadap pengalaman kaum arif.” Bahkan, kata al-Ghazali, seorang ilmuwan pun tak mampu memahami ekstase seorang sufi. Kalimat itu bukan retorika kosong. Al-Ghazali pernah menempuh seluruh jalan rasional, menekuni filsafat Yunani, sebelum akhirnya menyerah dan memilih sunyi. Baginya, metode akademis “tidak cukup dan kurang bermutu” untuk menyentuh inti realitas.
Baca juga: Kisah Sufi Jalaludin Rumi: Saudagar dan Darwis Kristen
Pada abad ke-11, sang “Hujjatul Islam” mematahkan taring para filosof Muslim yang mabuk logika Aristoteles. Ia menulis Tahafut al-Falasifah (Kerancuan Para Filosof), sebuah pukulan telak yang menggoyang klaim rasionalisme kala itu. Tapi al-Ghazali tak berhenti di kritik. Ia menawarkan jalan lain: Sufisme. Sebuah tradisi yang, menurutnya, bukan sekadar teologi, tapi pengalaman langsung akan Tuhan.
Problem Abadi: Ilmu yang Tak Bisa Dikurung Buku
Sejak awal, Sufisme memang menolak dibatasi oleh teks. Buku, kata mereka, hanya petunjuk kasar. Inti ajaran harus ditransmisikan lewat tatap muka dalam ikatan guru dan murid. Membaca halaman-halaman literatur tanpa bimbingan, bukan hanya keliru, tapi bisa berbahaya. “Waktu singkat bersama sahabat Sufi lebih baik daripada seratus tahun ibadah,” tulis Rumi.