Jejak Tarekat Suhrawardi: Dari Keheningan Sufi ke Tren Meditasi Korporasi
Miftah yusufpati
Ahad, 24 Agustus 2025 - 05:45 WIB
Tarekat Suhrawardi mengajarkan keheningan sebagai jalan marifahpelajaran yang kini bersua dengan tren mindfulness global. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Di gang-gang tua Baghdad, nama Junaid al-Baghdadi dijaga dalam ingatan para sufi. Dari disiplin yang dia tanamkan, ratusan tahun kemudian lahirlah tokoh bernama Syeikh Ziauddin Jahib Suhrawardi. Ia dianggap pendiri resmi Tarekat Suhrawardi pada abad ke-11 Masehi.
Sama seperti tarekat-tarekat lain, Suhrawardi tumbuh dalam jaringan yang cair. Guru-guru mereka diterima oleh pengikut Naqsyabandi, Qadiriyah, dan lainnya. Mereka menekankan keseimbangan antara syariat, hakikat, dan akhlak. “Esensi tarekat bukan sekadar wirid, tetapi latihan jiwa,” tulis Idries Shah dalam The Sufis (1964).
Jejak mereka meluas. Dari Persia, India, hingga Afrika. Para murid menyebarkan doktrin dan amalan, membentuk simpul-simpul spiritual di kota dan desa. Dalam catatan Carl Ernst, profesor studi agama dari University of North Carolina, “Suhrawardi adalah contoh bagaimana tasawuf menyesuaikan diri dengan ruang sosial—dari pengadilan istana hingga pedalaman” (Sufism: An Introduction to the Mystical Tradition of Islam, 1997).
Namun, berbeda dari stereotip sufi yang identik dengan ekstase, Suhrawardi mengutamakan latihan diam. Dari kegembiraan mistik menuju samt mutlak—keheningan total. Bagi mereka, diam bukan sekadar menahan kata, tetapi jalan untuk melihat “Realitas”.
Baca juga: Tarekat Chisytiyah: Menjadikan Musik sebagai Jembatan Menuju Ma’rifat,
Instruksi tarekat mereka unik. Banyak berupa legenda, kisah simbolik, atau bahkan fiksi. Tujuannya bukan hiburan, melainkan alat untuk mengasah kesadaran murid. “Tanpa persiapan, seorang murid hanya akan masuk ke kondisi pikiran yang berubah—bukan pencerahan,” tulis Shah.
Antara Zikir dan Mindfulness
Sama seperti tarekat-tarekat lain, Suhrawardi tumbuh dalam jaringan yang cair. Guru-guru mereka diterima oleh pengikut Naqsyabandi, Qadiriyah, dan lainnya. Mereka menekankan keseimbangan antara syariat, hakikat, dan akhlak. “Esensi tarekat bukan sekadar wirid, tetapi latihan jiwa,” tulis Idries Shah dalam The Sufis (1964).
Jejak mereka meluas. Dari Persia, India, hingga Afrika. Para murid menyebarkan doktrin dan amalan, membentuk simpul-simpul spiritual di kota dan desa. Dalam catatan Carl Ernst, profesor studi agama dari University of North Carolina, “Suhrawardi adalah contoh bagaimana tasawuf menyesuaikan diri dengan ruang sosial—dari pengadilan istana hingga pedalaman” (Sufism: An Introduction to the Mystical Tradition of Islam, 1997).
Namun, berbeda dari stereotip sufi yang identik dengan ekstase, Suhrawardi mengutamakan latihan diam. Dari kegembiraan mistik menuju samt mutlak—keheningan total. Bagi mereka, diam bukan sekadar menahan kata, tetapi jalan untuk melihat “Realitas”.
Baca juga: Tarekat Chisytiyah: Menjadikan Musik sebagai Jembatan Menuju Ma’rifat,
Instruksi tarekat mereka unik. Banyak berupa legenda, kisah simbolik, atau bahkan fiksi. Tujuannya bukan hiburan, melainkan alat untuk mengasah kesadaran murid. “Tanpa persiapan, seorang murid hanya akan masuk ke kondisi pikiran yang berubah—bukan pencerahan,” tulis Shah.
Antara Zikir dan Mindfulness