home masjid

Modernisasi atau Westernisasi? Membaca Ulang tentang Wajah Asli Peradaban Islam

Rabu, 27 Agustus 2025 - 05:45 WIB
Peniruan mode hidup Barat oleh kaum Muslimin adalah bahaya terbesar bagi kebangkitan kembali peradaban Islam. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Di antara kerlip lampu kota-kota besar dunia Islam hari ini, dari Jakarta hingga Kairo, ada satu wajah yang makin samar dikenali: wajah asli peradaban Islam. Di balik gedung-gedung menjulang, arsitektur Eropa yang dipoles ornamen Arab, busana modern yang menempel di tubuh para profesional Muslim, terselip sebuah ironi. Seabad setelah runtuhnya Khilafah Utsmaniyah, sebagian besar umat Islam masih gamang menentukan arah. Apakah modernisasi berarti westernisasi?

Muhammad Asad—pemikir kelahiran Eropa yang kemudian memeluk Islam—menulis kritik tajam soal ini dalam bukunya Islam di Simpang Jalan atau Islam at the Crossroads (1935). “Peniruan mode hidup Barat oleh kaum Muslimin adalah bahaya terbesar bagi kebangkitan kembali peradaban Islam,” tulisnya. Asad menyebut fenomena ini bukan sekadar mode, tetapi penyakit kultural yang bersumber dari satu hal: rasa frustrasi kolektif.

Frustrasi itu lahir dari kontras menyakitkan yang disaksikan umat Islam sejak abad ke-19: Eropa dengan kekuatan material dan kemajuan industrinya, sementara dunia Islam tertinggal dalam bayang-bayang kemelaratan. Alih-alih kembali pada sumber otentik ajaran Islam, sebagian kaum terpelajar memilih jalan pintas: meniru Barat. “Mereka beranggapan tidak ada jalan lain untuk maju kecuali mengadopsi hukum sosial dan ekonomi Barat,” tulis Asad.

Baca juga: Angkat Budaya Islam Turki, Zaskia dan Shireen Sungkar Rilis Koleksi Baju Lebaran

Fiqih yang Beku, Barat yang Memikat

Kegamangan ini tak lahir di ruang hampa. Asad menuding peran golongan ulama yang berpikir sempit—menyempitkan Syariah menjadi fiqih kaku. Akibatnya, ajaran Islam tampak tak adaptif terhadap dinamika zaman. Bagi kaum modernis, fiqih yang beku sama dengan stagnasi. Mereka kehilangan minat pada Syariah dan melirik Barat sebagai pelarian.

Dalam pandangan Asad, ini kesalahan fatal. Peradaban Barat, kata dia, bukan sekadar bentuk lahir—pakaian, arsitektur, tata kota—tetapi jiwa yang hidup, sebuah energi yang bekerja diam-diam membentuk mentalitas. “Tidak mungkin meniru kebudayaan lahir tanpa terpengaruh oleh jiwanya,” tulisnya. Ia mengutip hadis Nabi: *“Barangsiapa meniru suatu kaum, maka ia termasuk bagian dari mereka”* (Musnad Ibnu Hambal, Sunan Abi Da'ud).
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya