home masjid

Ketika Kitab Menjadi Batas: Menakar Kekufuran Ahli Kitab dalam Lensa Al-Qur’an

Kamis, 28 Agustus 2025 - 16:19 WIB
Sejarah telah membuktikan, umat Islam pernah hidup berdampingan dengan Ahli Kitab di Andalusia dan Baghdad. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID- Di balik sebutan yang sering kita dengar—Ahli Kitab—tersimpan dialektika panjang antara iman, sejarah, dan politik. Yahudi dan Nasrani, dua komunitas agama besar yang memegang kitab suci, digolongkan Al-Qur’an sebagai kafir. Sebab utamanya: mereka mendustakan kerasulan Muhammad SAW dan menolak risalah terakhir yang diturunkan melalui beliau.

“Dan Kami telah turunkan kepadamu Al-Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu…” (QS Al-Ma’idah: 48).

Ayat ini menegaskan peran Al-Qur’an sebagai mushaddiq(pembenar) sekaligus muhaimin(pengoreksi) terhadap Taurat dan Injil. Tapi bagi sebagian Yahudi dan Nasrani, ini sulit diterima. Syaikh Yusuf al-Qaradawi menulis dalam Fiqh Prioritas: “Mereka menolak karena ajaran yang dibawa Muhammad SAW mengoreksi penyimpangan yang telah mengakar dalam keyakinan mereka.”

Baca juga: Ini Mengapa Islam Menghalalkan Daging Sembelihan Ahli Kitab

Penyimpangan itu, menurut para mufasir, terjadi dalam konsep ketuhanan. Pada Yahudi, sebagian narasi dalam Taurat memuat gambaran antropomorfis tentang Tuhan: Ia cemburu, bertengkar, bahkan kalah oleh manusia. Sementara pada Nasrani, masuknya konsep Trinitas pasca-Konsili Nicea (325 M) menandai pergeseran dari monoteisme murni ke keyakinan “Tuhan yang tiga.”

Al-Qur’an mengkritik keras hal ini:

- “…sesungguhnya Allah ialah Al-Masih putera Maryam…” (QS Al-Ma’idah: 72).
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya