Syari’ah dan Tasawuf: Menjembatani Hukum dan Batin di Tengah Zaman
Miftah yusufpati
Kamis, 28 Agustus 2025 - 16:53 WIB
Syariah sering dimaknai formal dan kaku. Tasawuf hadir sebagai koreksi batiniah. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Kata syari’ah bukan barang asing. Sudah berabad-abad bergaung di telinga umat Islam. Bahkan, sejak firman Ilahi di Surah Al-Jatsiyah ayat 18: “Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat dari urusan itu, maka ikutilah syariat itu…”
Dalam teks suci, syari’ah berarti jalan menuju kehidupan sesuai kehendak Tuhan. Ajaran, norma, pedoman. Namun, sejarah membawa makna itu menyempit. Kini, syari’ah lebih banyak dipahami sebagai hukum formal. Aturan-aturan lahiriah yang mengikat.
Ketika Islam berkembang, muncul tiga istilah kunci: thariqah, haqiqah, dan ma’rifah. Masing-masing menandai tingkatan spiritual. Syari’ah pun menjadi satu sisi mata uang. Fokus pada hukum lahiriah. Sementara tiga lainnya mengalir ke dunia tasawuf.
Tasawuf sendiri? Bagi sebagian sarjana, ia adalah arus spiritual yang lahir di tengah dua kutub: kelompok formal (para ahli fikih dan hadis) dan kelompok intelektual (mutakallimin). Ia bukan sekte, bukan mazhab, melainkan kecenderungan.
Baca juga: Tasawuf: Jejak Asketisme, Lintas Perdebatan, dan Bayang-Bayang Asing di Tubuh Islam
Ibnu Khaldun mencatat dalam Al-Muqaddimah: tasawuf berakar dari disiplin ibadah, konsentrasi tujuan hidup kepada Allah, dan pelepasan diri dari jeratan duniawi. Pada abad pertama Hijriah, hidup sederhana adalah norma. Tapi ketika dunia Islam memasuki era kemakmuran, nilai itu mulai bergeser.
Maka lahirlah para sufi. Mereka menolak gemerlap dunia. Berbalik ke kesunyian.
Dalam teks suci, syari’ah berarti jalan menuju kehidupan sesuai kehendak Tuhan. Ajaran, norma, pedoman. Namun, sejarah membawa makna itu menyempit. Kini, syari’ah lebih banyak dipahami sebagai hukum formal. Aturan-aturan lahiriah yang mengikat.
Ketika Islam berkembang, muncul tiga istilah kunci: thariqah, haqiqah, dan ma’rifah. Masing-masing menandai tingkatan spiritual. Syari’ah pun menjadi satu sisi mata uang. Fokus pada hukum lahiriah. Sementara tiga lainnya mengalir ke dunia tasawuf.
Tasawuf sendiri? Bagi sebagian sarjana, ia adalah arus spiritual yang lahir di tengah dua kutub: kelompok formal (para ahli fikih dan hadis) dan kelompok intelektual (mutakallimin). Ia bukan sekte, bukan mazhab, melainkan kecenderungan.
Baca juga: Tasawuf: Jejak Asketisme, Lintas Perdebatan, dan Bayang-Bayang Asing di Tubuh Islam
Ibnu Khaldun mencatat dalam Al-Muqaddimah: tasawuf berakar dari disiplin ibadah, konsentrasi tujuan hidup kepada Allah, dan pelepasan diri dari jeratan duniawi. Pada abad pertama Hijriah, hidup sederhana adalah norma. Tapi ketika dunia Islam memasuki era kemakmuran, nilai itu mulai bergeser.
Maka lahirlah para sufi. Mereka menolak gemerlap dunia. Berbalik ke kesunyian.