home masjid

Bayazid Bistami dan Bahasa Mabuk Cinta Ilahi

Jum'at, 29 Agustus 2025 - 05:15 WIB
Seruan yang membuatnya dipuja para pencari Tuhan, tapi juga dikecam sebagai penyimpang. Ilustrasi Ist
LANGIT7.ID- Bistam, Iran Timur. Seorang zahid berjalan tanpa alas. Zikir lirih. Nafas pendek. Namanya Abu Yazid al-Busthami. Di Nusantara, ia lebih akrab sebagai Bayazid Bistami. Di dunia tasawuf, ia ikon. Juga polemik.

Ia hidup pada abad ke-3 H/9 M. Tanggal persisnya diperdebatkan. Sekitar 804–874 M. Latar keluarganya sederhana. Jalur pendidikannya asketik. Ia menghindari hiruk politik. Memilih jalan sunyi. (Schimmel, Mystical Dimensions of Islam; Nicholson, The Mystics of Islam).

Di kitab-kitab klasik, Abu Yazid termasyhur oleh shathiyyat. Ucapan ekstatis. Mengagetkan telinga formal. Paling terkenal: “Subhani, ma a‘zhama sya’ni”—“Mahasuci aku, betapa agung keadaanku.” Ucapan yang bagi fuqaha terdengar berbahaya. Bagi para sufi: bahasa orang yang “luruh” dalam Tuhan. Fana. (al-Qushayri, Al-Risalah; Hujwiri, Kashf al-Mahjub).

Konsepnya sederhana namun tajam: fana’ (lebur ego) lalu baqa’ (tegak dalam kesadaran Ilahi). Dalam keadaan sukr—mabuk spiritual—lidahnya menyalak metafor. “Yang berbicara bukan aku,” begitu tafsir para murid, “melainkan al-Haqq yang meminjam lisannya.”.

Baca juga: Gelombang yang Tak Pernah Padam: Sufisme dan Tantangan Zaman

Dari Zuhud ke Ekstase

Abu Yazid memulai dari zuhud ketat. Puasa. Qiyam. Sedikit makan. Banyak diam. Ia menolak hadiah penguasa. Jauh dari istana. “Tasawuf adalah meninggalkan dunia, kemudian meninggalkan akhirat, lalu meninggalkan selain Allah,” riwayat klasik menulis begitu. (Hujwiri; al-Sarraj, Al-Luma’).
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya