Dari Tauhid ke Materialisme: Pertarungan yang Tak Pernah Usai
Miftah yusufpati
Jum'at, 29 Agustus 2025 - 16:00 WIB
Komunisme berangkat dari tanah dan kembali ke tanah Islam berangkat dari Tuhan dan kembali kepada-Nya. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID- Islam sejak lahir membawa konsep tatanan sosial berporos pada tauhid, hukum ilahi, dan keadilan. Di sisi lain, komunisme yang lahir dari rahim materialisme historis Karl Marx menawarkan dunia tanpa kelas, penghapusan kepemilikan pribadi, dan penolakan total terhadap keberadaan Tuhan.
Philip Hitti dalam History of the Arabs (2002) menyebut bahwa dua kutub ini langsung berseberangan. Islam mengakui kepemilikan individu, tapi memberi batas melalui zakat dan larangan riba. Komunisme menolak konsep kepemilikan sama sekali.
Sosiolog Iran, Ali Syariati, dalam On the Sociology of Islam (1980) menegaskan bahwa Islam dan komunisme sama-sama berpihak kepada mustadh’afin atau kaum tertindas. Namun, titik pijaknya berbeda. Komunisme memandang sejarah sebagai pertarungan kelas tanpa ruang bagi iman. Islam justru menempatkan iman sebagai poros. “Dalam Islam, pembebasan manusia tidak bisa dipisahkan dari pembebasan akidah,” tulis Syariati.
Baca juga: Jejak Panjang Pertarungan Islam dan Komunisme: Sejarah, Ideologi, dan Dampaknya hingga Kini
Rebutan Basis Massa
Hassan Hanafi dalam bukunya Religion and Revolution (1980) menekankan, benturan ini bukan sekadar soal teologi, tetapi juga perebutan basis massa di lapangan politik. Abad ke-20 menjadi panggung utama. Uni Soviet menanamkan pengaruh komunisme di Asia Tengah, Iran, Afghanistan, hingga dunia Arab. Namun, ideologi ateis ini selalu dipandang sebagai ancaman terhadap struktur sosial dan spiritual masyarakat Muslim.
Nurcholish Madjid dalam Islam, Kemodernan dan Keindonesiaan (1992) menulis bahwa komunisme gagal berakar kuat di negeri-negeri Muslim karena mengabaikan dimensi religius yang vital dalam kehidupan manusia. “Komunisme menafikan aspek transendental, padahal itu fondasi moral umat Islam,” kata Cak Nur.
Philip Hitti dalam History of the Arabs (2002) menyebut bahwa dua kutub ini langsung berseberangan. Islam mengakui kepemilikan individu, tapi memberi batas melalui zakat dan larangan riba. Komunisme menolak konsep kepemilikan sama sekali.
Sosiolog Iran, Ali Syariati, dalam On the Sociology of Islam (1980) menegaskan bahwa Islam dan komunisme sama-sama berpihak kepada mustadh’afin atau kaum tertindas. Namun, titik pijaknya berbeda. Komunisme memandang sejarah sebagai pertarungan kelas tanpa ruang bagi iman. Islam justru menempatkan iman sebagai poros. “Dalam Islam, pembebasan manusia tidak bisa dipisahkan dari pembebasan akidah,” tulis Syariati.
Baca juga: Jejak Panjang Pertarungan Islam dan Komunisme: Sejarah, Ideologi, dan Dampaknya hingga Kini
Rebutan Basis Massa
Hassan Hanafi dalam bukunya Religion and Revolution (1980) menekankan, benturan ini bukan sekadar soal teologi, tetapi juga perebutan basis massa di lapangan politik. Abad ke-20 menjadi panggung utama. Uni Soviet menanamkan pengaruh komunisme di Asia Tengah, Iran, Afghanistan, hingga dunia Arab. Namun, ideologi ateis ini selalu dipandang sebagai ancaman terhadap struktur sosial dan spiritual masyarakat Muslim.
Nurcholish Madjid dalam Islam, Kemodernan dan Keindonesiaan (1992) menulis bahwa komunisme gagal berakar kuat di negeri-negeri Muslim karena mengabaikan dimensi religius yang vital dalam kehidupan manusia. “Komunisme menafikan aspek transendental, padahal itu fondasi moral umat Islam,” kata Cak Nur.