Bayang Dendam: Jejak Yahudi Setelah Terusir dari Jazirah Arab
Miftah yusufpati
Ahad, 31 Agustus 2025 - 04:15 WIB
Dendam bukan sekadar catatan di lembar sejarah. Ia hidup dalam ingatan kolektif, memengaruhi politik, ekonomi, dan ideologi hingga kini. Ilusrasi: Anadolu Agency
LANGIT7.ID- Sejarah hubungan Yahudi dan umat Islam di Jazirah Arab bukan hanya kisah tentang kontrak sosial yang rapuh. Ia adalah kisah tentang kepercayaan yang retak, kepentingan ekonomi, intrik politik, dan balas dendam yang tak pernah reda. Pengusiran Yahudi dari Madinah bukan sekadar fakta sejarah; ia menjadi titik awal sebuah narasi yang terus hidup hingga kini.
Catatan klasik seperti karya Ibn Ishaq dalam Sirah Nabawiyah menuturkan peristiwa-peristiwa yang mengawali pengusiran itu. Bani Qainuqa, kelompok Yahudi yang bermukim di Madinah, pertama kali diusir karena melanggar Piagam Madinah, sebuah perjanjian yang disusun Nabi untuk mengikat umat Islam, Yahudi, dan kelompok lainnya dalam satu komunitas politik. Menurut Ibn Ishaq, Bani Qainuqa menghina umat Islam setelah kemenangan mereka di Perang Badar dan melakukan provokasi yang berujung pada konflik terbuka. Akibatnya, mereka diusir ke Syam (Sirah Ibn Ishaq, 1955).
Tak lama setelahnya, Bani Nadhir menyusul. Mereka dituduh bersekongkol membunuh Rasulullah ketika Nabi mendatangi mereka untuk meminta bantuan membayar diyat. "Mereka merencanakan melempar batu dari atas rumah," tulis Ibn Ishaq. Konspirasi ini gagal, tapi dendam semakin dalam. Mereka pun terusir dari Madinah, sebagian besar menuju Khaibar—oasis subur yang kemudian menjadi basis kekuatan mereka.
Baca juga: Kisah Hikmah Abu Nawas: Peringatan Aneh si Raja Yahudi
Puncaknya adalah peristiwa Bani Quraizhah. Dalam Perang Ahzab (627 M), ketika Madinah terkepung oleh pasukan Quraisy dan sekutunya, Bani Quraizhah yang semula terikat perjanjian damai dengan Nabi, diduga berkhianat. "Mereka membuka negosiasi dengan musuh untuk menyerang dari dalam," catat Ibn Ishaq. Setelah pasukan Ahzab gagal, Bani Quraizhah dikepung. Vonis dijatuhkan: laki-laki dewasa dihukum mati, perempuan dan anak-anak dijadikan tawanan (Guillaume, The Life of Muhammad, 1955).
Apa yang memicu pengkhianatan itu?
Sejarawan besar, Ibn Khaldun, memberi jawaban dalam Muqaddimah. Ia menulis bahwa hubungan antara Yahudi dan umat Islam sejak awal diwarnai oleh kepentingan ekonomi dan dominasi politik. Kaum Yahudi menguasai lahan subur, benteng pertahanan, dan perdagangan. Saat Islam tumbuh, mereka melihatnya sebagai ancaman. "Kebencian yang timbul kemudian menjadi bahan bakar sejarah panjang permusuhan," tulis Ibn Khaldun (Muqaddimah, Bab II).
Catatan klasik seperti karya Ibn Ishaq dalam Sirah Nabawiyah menuturkan peristiwa-peristiwa yang mengawali pengusiran itu. Bani Qainuqa, kelompok Yahudi yang bermukim di Madinah, pertama kali diusir karena melanggar Piagam Madinah, sebuah perjanjian yang disusun Nabi untuk mengikat umat Islam, Yahudi, dan kelompok lainnya dalam satu komunitas politik. Menurut Ibn Ishaq, Bani Qainuqa menghina umat Islam setelah kemenangan mereka di Perang Badar dan melakukan provokasi yang berujung pada konflik terbuka. Akibatnya, mereka diusir ke Syam (Sirah Ibn Ishaq, 1955).
Tak lama setelahnya, Bani Nadhir menyusul. Mereka dituduh bersekongkol membunuh Rasulullah ketika Nabi mendatangi mereka untuk meminta bantuan membayar diyat. "Mereka merencanakan melempar batu dari atas rumah," tulis Ibn Ishaq. Konspirasi ini gagal, tapi dendam semakin dalam. Mereka pun terusir dari Madinah, sebagian besar menuju Khaibar—oasis subur yang kemudian menjadi basis kekuatan mereka.
Baca juga: Kisah Hikmah Abu Nawas: Peringatan Aneh si Raja Yahudi
Puncaknya adalah peristiwa Bani Quraizhah. Dalam Perang Ahzab (627 M), ketika Madinah terkepung oleh pasukan Quraisy dan sekutunya, Bani Quraizhah yang semula terikat perjanjian damai dengan Nabi, diduga berkhianat. "Mereka membuka negosiasi dengan musuh untuk menyerang dari dalam," catat Ibn Ishaq. Setelah pasukan Ahzab gagal, Bani Quraizhah dikepung. Vonis dijatuhkan: laki-laki dewasa dihukum mati, perempuan dan anak-anak dijadikan tawanan (Guillaume, The Life of Muhammad, 1955).
Apa yang memicu pengkhianatan itu?
Sejarawan besar, Ibn Khaldun, memberi jawaban dalam Muqaddimah. Ia menulis bahwa hubungan antara Yahudi dan umat Islam sejak awal diwarnai oleh kepentingan ekonomi dan dominasi politik. Kaum Yahudi menguasai lahan subur, benteng pertahanan, dan perdagangan. Saat Islam tumbuh, mereka melihatnya sebagai ancaman. "Kebencian yang timbul kemudian menjadi bahan bakar sejarah panjang permusuhan," tulis Ibn Khaldun (Muqaddimah, Bab II).