Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Kamis, 04 Juni 2026
home masjid detail berita

Bayang Dendam: Jejak Yahudi Setelah Terusir dari Jazirah Arab

miftah yusufpati Ahad, 31 Agustus 2025 - 04:15 WIB
Bayang Dendam: Jejak Yahudi Setelah Terusir dari Jazirah Arab
Dendam bukan sekadar catatan di lembar sejarah. Ia hidup dalam ingatan kolektif, memengaruhi politik, ekonomi, dan ideologi hingga kini. Ilusrasi: Anadolu Agency
LANGIT7.ID- Sejarah hubungan Yahudi dan umat Islam di Jazirah Arab bukan hanya kisah tentang kontrak sosial yang rapuh. Ia adalah kisah tentang kepercayaan yang retak, kepentingan ekonomi, intrik politik, dan balas dendam yang tak pernah reda. Pengusiran Yahudi dari Madinah bukan sekadar fakta sejarah; ia menjadi titik awal sebuah narasi yang terus hidup hingga kini.

Catatan klasik seperti karya Ibn Ishaq dalam Sirah Nabawiyah menuturkan peristiwa-peristiwa yang mengawali pengusiran itu. Bani Qainuqa, kelompok Yahudi yang bermukim di Madinah, pertama kali diusir karena melanggar Piagam Madinah, sebuah perjanjian yang disusun Nabi untuk mengikat umat Islam, Yahudi, dan kelompok lainnya dalam satu komunitas politik. Menurut Ibn Ishaq, Bani Qainuqa menghina umat Islam setelah kemenangan mereka di Perang Badar dan melakukan provokasi yang berujung pada konflik terbuka. Akibatnya, mereka diusir ke Syam (Sirah Ibn Ishaq, 1955).

Tak lama setelahnya, Bani Nadhir menyusul. Mereka dituduh bersekongkol membunuh Rasulullah ketika Nabi mendatangi mereka untuk meminta bantuan membayar diyat. "Mereka merencanakan melempar batu dari atas rumah," tulis Ibn Ishaq. Konspirasi ini gagal, tapi dendam semakin dalam. Mereka pun terusir dari Madinah, sebagian besar menuju Khaibar—oasis subur yang kemudian menjadi basis kekuatan mereka.

Baca juga: Kisah Hikmah Abu Nawas: Peringatan Aneh si Raja Yahudi

Puncaknya adalah peristiwa Bani Quraizhah. Dalam Perang Ahzab (627 M), ketika Madinah terkepung oleh pasukan Quraisy dan sekutunya, Bani Quraizhah yang semula terikat perjanjian damai dengan Nabi, diduga berkhianat. "Mereka membuka negosiasi dengan musuh untuk menyerang dari dalam," catat Ibn Ishaq. Setelah pasukan Ahzab gagal, Bani Quraizhah dikepung. Vonis dijatuhkan: laki-laki dewasa dihukum mati, perempuan dan anak-anak dijadikan tawanan (Guillaume, The Life of Muhammad, 1955).

Apa yang memicu pengkhianatan itu?

Sejarawan besar, Ibn Khaldun, memberi jawaban dalam Muqaddimah. Ia menulis bahwa hubungan antara Yahudi dan umat Islam sejak awal diwarnai oleh kepentingan ekonomi dan dominasi politik. Kaum Yahudi menguasai lahan subur, benteng pertahanan, dan perdagangan. Saat Islam tumbuh, mereka melihatnya sebagai ancaman. "Kebencian yang timbul kemudian menjadi bahan bakar sejarah panjang permusuhan," tulis Ibn Khaldun (Muqaddimah, Bab II).

Dendam itu tak hilang, ia bermetamorfosis. Sejarawan kontemporer, Raghib al-Sirjani dalam Yahud: Tarikh wa Aqidah, menegaskan bahwa kekalahan Yahudi di Khaibar (628 M) meninggalkan luka psikologis mendalam. Bagi mereka, Khaibar adalah simbol kekuatan yang hancur. "Sejak saat itu, kaum Yahudi berupaya membalas melalui dua jalur: pengaruh intelektual dan kekuatan politik," kata al-Sirjani (2012). Ia mengaitkan peran Abdullah bin Saba’, tokoh kontroversial yang memicu fitnah dalam sejarah Islam awal, sebagai bagian dari infiltrasi ideologis.

Baca juga: Kitab yang Hilang, Kisah yang Hidup: Jejak Yahudi dan Kristen dalam Sejarah Nabi-Nabi Islam

Banyak orientalis Barat menolak narasi ini, menyebutnya sebagai "mitos politik". Namun literatur klasik muslim menegaskan bahwa dendam Yahudi termanifestasi dalam peristiwa-peristiwa besar setelahnya. Ahmad Shalabi dalam Tareekh al-Yahud fi al-Alam al-Islami menulis tentang keterlibatan tokoh Yahudi dalam memprovokasi Bizantium melawan umat Islam, hingga peran intelijen Yahudi saat invasi Mongol ke Baghdad pada 1258. "Mereka memanfaatkan setiap momentum melemahkan dunia Islam," tulis Shalabi (1954).

Raghib al-Sirjani mengaitkan berdirinya negara Israel pada 1948 dengan kesinambungan sejarah panjang konflik. "Itu bukan semata proyek kolonial Barat, melainkan kelanjutan ambisi yang sudah dipupuk sejak masa Khaibar," tulisnya. Narasi ini diperkuat oleh fakta-fakta historis tentang dukungan lobi Yahudi terhadap kekuatan kolonial, seperti Deklarasi Balfour (1917).

Namun, Muhammad Husain Haekal dalam Hayat Muhammad memberi catatan penting. Ia mengingatkan agar umat Islam membaca sejarah bukan untuk memupuk kebencian, melainkan untuk memahami dinamika geopolitik yang membentuk dunia modern. Haekal menilai bahwa dendam, jika dibiarkan menjadi ideologi, hanya akan melahirkan lingkaran kekerasan yang tak berujung.

Baca juga: Akhir Zaman: Isfahan, Khurasan dan Ramalan Tentara Yahudi dalam Pasukan Dajjal

Sejarah atau mitos politik?

Bagi sebagian akademisi muslim, narasi dendam Yahudi adalah kenyataan historis. Namun, bagi banyak sarjana Barat, itu adalah konstruksi ideologis. Perbedaan tafsir ini membuka ruang diskusi panjang tentang bagaimana sejarah digunakan untuk membaca realitas kontemporer, mulai dari konflik Palestina-Israel hingga dinamika politik global yang melibatkan kekuatan Yahudi.

Dendam bukan sekadar catatan di lembar sejarah. Ia hidup dalam ingatan kolektif, memengaruhi politik, ekonomi, dan ideologi hingga kini. Tetapi pertanyaannya, apakah dendam harus terus diwariskan? Ataukah manusia mampu menulis ulang sejarah dengan tinta perdamaian, bukan darah?

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Kamis 04 Juni 2026
Imsak
04:27
Shubuh
04:37
Dhuhur
11:54
Ashar
15:15
Maghrib
17:48
Isya
19:01
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)