home masjid

Di Antara Alif dan Palu Arit: Mengapa Banyak Tokoh Islam Masuk PKI?

Rabu, 03 September 2025 - 16:29 WIB
Tak selalu saling meniadakan. Islam dan komunisme pernah bersisian dalam sejarah Indonesia. Bahkan kader Muhammadiyah dan tokoh NU sempat berada di bawah bendera PKI. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID- tahun-tahun awal kemerdekaan, Indonesia adalah rumah bagi ideologi-ideologi besar: nasionalisme, Islamisme, dan komunisme. Tiga kekuatan itu berebut pengaruh di jalanan, parlemen, hingga masjid dan ladang.

Bagi sebagian kalangan Islam—baik dari Muhammadiyah maupun NU—komunisme bukan lawan langsung, melainkan sekutu tak nyaman dalam perjuangan melawan kolonialisme dan kapitalisme. Kesamaan musuh menciptakan kedekatan ideologis, meski untuk sementara.

“Islam dan Marxisme sempat berdiri bersebelahan dalam satu panggung perlawanan,” kata sejarawan Dr. Muslih Usman dari UIN Alauddin, Makassar, dalam artikel akademiknya Islam dan PKI di Sulawesi Selatan (2020). “Namun perbedaan fondasi ideologi segera menjadi pemisah tajam.”

Baca juga: Jejak Panjang Pertarungan Islam dan Komunisme: Sejarah, Ideologi, dan Dampaknya hingga Kini

Toleransi yang Berakhir Konfrontasi

NU—yang lahir dari kultur pesantren dan kultural Islam tradisional—awalnya punya hubungan ambigu dengan PKI. Di beberapa daerah, terutama di Jawa Timur dan Jawa Tengah, kader NU duduk berdampingan dengan anggota PKI dalam struktur pemerintah lokal.

“Tidak bisa dipungkiri, dalam masa-masa tertentu, warga NU dan PKI itu bertetangga, bahkan saling bantu,” kata K.H. Salahuddin Wahid (Gus Solah) dalam wawancara dengan Tempo (2003). “Namun, saat garis ideologis semakin tegas, hubungan itu berubah drastis.”
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya