Paradoks Saudi: Larang Maulid Nabi, Rayakan Milad Muhammad bin Abdul Wahhab
Miftah yusufpati
Jum'at, 05 September 2025 - 04:15 WIB
Perayaan atau peringatan untuk Muhammad bin Abdul Wahhab justru memperkuat fondasi kekuasaan. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Setiap 12 Rabiul Awal, dunia Islam bersuka cita mengenang kelahiran Nabi Muhammad. Di Mesir, kembang gula “permen maulid” membanjiri pasar. Di Indonesia, selawat menggema semalam suntuk. Namun, di Arab Saudi, perayaan semacam itu dilarang keras. Negeri kelahiran Nabi memilih jalan puritan: tak ada pesta, tak ada lampu-lampu, bahkan fatwa resmi menegaskan keharamannya. Ironisnya, dalam sejarah modern Saudi, peringatan hari lahir tokoh pendiri gerakan Wahabi—Muhammad bin Abdul Wahhab—justru pernah digelar oleh negara.
Mengapa Saudi melarang Maulid Nabi? Jawabannya terletak pada ideologi resmi negara: Wahabisme. Gerakan yang dirintis Muhammad bin Abdul Wahhab (1703–1792) di Najd ini menekankan pemurnian tauhid dan menolak semua ritual yang dianggap bid’ah. Dalam pandangannya, Maulid adalah inovasi yang tidak dilakukan Nabi dan para sahabat.
Dalam Kitab al-Tauhid, Ibn Abdul Wahhab menulis: “Setiap amalan yang tidak pernah dicontohkan Rasulullah adalah bid’ah.” Sikap ini diperkuat para penerusnya. Mufti besar Saudi, Abdul Aziz bin Baz, dalam Majmu’ Fatawamenegaskan: “Merayakan Maulid adalah bentuk kesesatan.” Nada yang sama diulang oleh Ibnu Utsaimin dalam Fatawa Nur ‘ala ad-Darb.
Larangan ini bukan sekadar fatwa. Negara memasukkannya ke dalam struktur hukum dan kebijakan. Sejak berdirinya Kerajaan Saudi pada 1932, tidak ada ruang publik untuk Maulid. Rumah kelahiran Nabi di Mekah bahkan diubah menjadi perpustakaan, tanpa aktivitas ritual.
Baca juga: Siapa Bilang Tak Ada Perayaan Maulid Nabi di Arab Saudi?
Pernah Ada Pesta untuk Muhammad bin Abdul Wahhab
Ironisnya, buku Wahhabi Islam: From Revival and Reform to Global Jihadkarya Natana J. DeLong-Bas (Oxford University Press, 2004) mencatat bahwa pada 1991, pemerintah Saudi melalui Kementerian Pendidikan mengadakan program peringatan 200 tahun wafatnya Muhammad bin Abdul Wahhab. Acara itu melibatkan seminar nasional, penerbitan buku, dan promosi besar-besaran tentang “warisan sang pembaharu.”
Mengapa Saudi melarang Maulid Nabi? Jawabannya terletak pada ideologi resmi negara: Wahabisme. Gerakan yang dirintis Muhammad bin Abdul Wahhab (1703–1792) di Najd ini menekankan pemurnian tauhid dan menolak semua ritual yang dianggap bid’ah. Dalam pandangannya, Maulid adalah inovasi yang tidak dilakukan Nabi dan para sahabat.
Dalam Kitab al-Tauhid, Ibn Abdul Wahhab menulis: “Setiap amalan yang tidak pernah dicontohkan Rasulullah adalah bid’ah.” Sikap ini diperkuat para penerusnya. Mufti besar Saudi, Abdul Aziz bin Baz, dalam Majmu’ Fatawamenegaskan: “Merayakan Maulid adalah bentuk kesesatan.” Nada yang sama diulang oleh Ibnu Utsaimin dalam Fatawa Nur ‘ala ad-Darb.
Larangan ini bukan sekadar fatwa. Negara memasukkannya ke dalam struktur hukum dan kebijakan. Sejak berdirinya Kerajaan Saudi pada 1932, tidak ada ruang publik untuk Maulid. Rumah kelahiran Nabi di Mekah bahkan diubah menjadi perpustakaan, tanpa aktivitas ritual.
Baca juga: Siapa Bilang Tak Ada Perayaan Maulid Nabi di Arab Saudi?
Pernah Ada Pesta untuk Muhammad bin Abdul Wahhab
Ironisnya, buku Wahhabi Islam: From Revival and Reform to Global Jihadkarya Natana J. DeLong-Bas (Oxford University Press, 2004) mencatat bahwa pada 1991, pemerintah Saudi melalui Kementerian Pendidikan mengadakan program peringatan 200 tahun wafatnya Muhammad bin Abdul Wahhab. Acara itu melibatkan seminar nasional, penerbitan buku, dan promosi besar-besaran tentang “warisan sang pembaharu.”