home masjid

Kesombongan dan Kedengkian: Dua Penyakit Lama yang Menggerogoti Umat

Sabtu, 06 September 2025 - 05:45 WIB
Ketika media sosial menjadi panggung, kesombongan dan kedengkian menemukan pupuk baru. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Di era modern, ketika teknologi menciptakan jejaring tanpa batas dan akses informasi terbuka lebar, penyakit lama yang menghancurkan peradaban masih tetap bercokol: kesombongan dan kedengkian. Dua virus moral ini tidak memerlukan waktu untuk bermutasi. Mereka menempel pada ego manusia, bahkan semakin subur di zaman yang mengagungkan pencitraan dan kompetisi.

Sejarahnya setua kisah penciptaan manusia. Dalam catatan Al-Qur’an, kesombongan pertama kali meletup saat Allah memerintahkan para malaikat sujud kepada Adam. Semua tunduk, kecuali satu makhluk: Iblis. Dengan nada pongah ia berkata: “Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada manusia yang Engkau ciptakan dari tanah liat kering,” (al-Hijr: 33).

Ia bahkan menegaskan klaim superioritasnya: “Aku lebih baik darinya. Engkau ciptakan aku dari api, sedang dia Engkau ciptakan dari tanah.” (Shad: 76).

Penolakan ini bukan sekadar keengganan ritual, melainkan bentuk arogansi yang mengkristal. Ia merasa lebih layak, lebih tinggi derajatnya. Dari titik inilah kesombongan lahir sebagai dosa pertama yang mengantarkan Iblis terusir dari rahmat Allah.

Baca juga: Jauhi Sifat Rendah Diri, Buya Yahya: Minder Adalah Kesombongan yang Tertunda

Batas Tipis antara Kebanggaan dan Kesombongan

Kesombongan bukan sekadar soal pakaian mewah atau gelar panjang. Ia bekerja lebih halus: menjalar ke hati, menguasai pikiran. Rasulullah SAW menegaskan, “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat setitik kesombongan.” (HR. Muslim). Dalam hadis qudsi, Allah menegaskan, “Kemegahan adalah kain-Ku, kesombongan adalah selendang-Ku. Siapa yang merebutnya, Aku akan menyiksanya.”
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya