Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Kamis, 04 Juni 2026
home masjid detail berita

Kesombongan dan Kedengkian: Dua Penyakit Lama yang Menggerogoti Umat

miftah yusufpati Sabtu, 06 September 2025 - 05:45 WIB
Kesombongan dan Kedengkian: Dua Penyakit Lama yang Menggerogoti Umat
Ketika media sosial menjadi panggung, kesombongan dan kedengkian menemukan pupuk baru. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Di era modern, ketika teknologi menciptakan jejaring tanpa batas dan akses informasi terbuka lebar, penyakit lama yang menghancurkan peradaban masih tetap bercokol: kesombongan dan kedengkian. Dua virus moral ini tidak memerlukan waktu untuk bermutasi. Mereka menempel pada ego manusia, bahkan semakin subur di zaman yang mengagungkan pencitraan dan kompetisi.

Sejarahnya setua kisah penciptaan manusia. Dalam catatan Al-Qur’an, kesombongan pertama kali meletup saat Allah memerintahkan para malaikat sujud kepada Adam. Semua tunduk, kecuali satu makhluk: Iblis. Dengan nada pongah ia berkata: “Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada manusia yang Engkau ciptakan dari tanah liat kering,” (al-Hijr: 33).
Ia bahkan menegaskan klaim superioritasnya: “Aku lebih baik darinya. Engkau ciptakan aku dari api, sedang dia Engkau ciptakan dari tanah.” (Shad: 76).

Penolakan ini bukan sekadar keengganan ritual, melainkan bentuk arogansi yang mengkristal. Ia merasa lebih layak, lebih tinggi derajatnya. Dari titik inilah kesombongan lahir sebagai dosa pertama yang mengantarkan Iblis terusir dari rahmat Allah.

Baca juga: Jauhi Sifat Rendah Diri, Buya Yahya: Minder Adalah Kesombongan yang Tertunda

Batas Tipis antara Kebanggaan dan Kesombongan

Kesombongan bukan sekadar soal pakaian mewah atau gelar panjang. Ia bekerja lebih halus: menjalar ke hati, menguasai pikiran. Rasulullah SAW menegaskan, “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat setitik kesombongan.” (HR. Muslim). Dalam hadis qudsi, Allah menegaskan, “Kemegahan adalah kain-Ku, kesombongan adalah selendang-Ku. Siapa yang merebutnya, Aku akan menyiksanya.”

Kesombongan, dalam bahasa Al-Qur’an, adalah penghalang kebenaran. “Mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan, padahal hati mereka meyakini kebenarannya.” (an-Naml: 14). Akibatnya tragis. Allah menutup ayat dengan peringatan keras: “Masuklah ke pintu-pintu neraka Jahanam, kekal di dalamnya. Itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang sombong.” (an-Nahl: 29).

Selanjutnya, jika kesombongan membuat manusia merasa lebih tinggi dari yang lain, maka kedengkian menginginkan yang lain jatuh ke titik terendah. Kedengkian adalah penyakit hati yang membuat orang tidak senang ketika orang lain mendapat nikmat. Ia lebih memilih nikmat itu hilang, bahkan jika dirinya tidak memperolehnya.

Al-Qur’an mengabadikan tragedi pertama akibat kedengkian dalam kisah dua putra Adam, Habil dan Qabil. Karena persembahannya ditolak, Qabil tega membunuh saudaranya sendiri. “Sungguh, jika engkau menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan semesta alam.” (al-Ma’idah: 28). Tetapi nasihat itu tak mampu memadamkan api hasad.

Tak heran jika Rasulullah SAW menyebut kedengkian sebagai “pencukur”. “Kebencian dan kedengkian adalah pencukur—bukan pencukur rambut, tapi pencukur agama.” (HR. Tirmidzi). Ia bisa menghapus pahala amal seperti api melalap kayu kering. Dalam hadis lain Nabi menegaskan: “Tidak akan bertemu dalam diri seorang hamba, iman dan kedengkian.”

Baca juga: Bukan Seruling Setan: Membaca Ulang Musik dan Tarian dalam Laku Sufi Imam Al-Ghazali

Menggerogoti Peradaban, Bukan Sekadar Individu

Dua penyakit ini tidak berhenti pada tataran individu. Ia merembes ke struktur sosial, melahirkan kezaliman, konflik, bahkan perang. Sejarah mencatat, banyak kekaisaran runtuh bukan karena lemahnya pasukan, tetapi karena arogansi para penguasa dan iri hati di antara elit. Kedengkian melahirkan pengkhianatan, kesombongan menutup pintu nasihat.

Syaikh Yusuf al-Qardhawi dalam bukunya Fiqh Prioritas menegaskan, membersihkan dua penyakit ini adalah prioritas utama perbaikan umat. “Kesombongan dan kedengkian bukan hanya mengikis pahala, tetapi merusak sendi kehidupan sosial. Selama penyakit ini bercokol, tidak mungkin lahir masyarakat yang damai.”

Ia menekankan, jihad melawan hawa nafsu ini tidak kalah penting dari jihad fisik. Bahkan lebih berat, karena musuhnya bukan di luar, tetapi di dalam diri. Dan dalam dunia modern yang dikuasai citra, status, dan kompetisi, medan tempurnya semakin luas.

Baca juga: Setan Dibelenggu di Bulan Ramadan, Mengapa Masih Banyak Kemaksiatan?

Mengapa Ini Mendesak?

Hari ini, ketika media sosial menjadi panggung, kesombongan dan kedengkian menemukan pupuk baru. Orang memamerkan harta, jabatan, atau pencapaian, sementara yang lain membalas dengan komentar sinis, bahkan fitnah. Dari sinilah lahir polarisasi, ujaran kebencian, hingga kekerasan sosial.

Mengikis kesombongan dan kedengkian bukan sekadar ajaran moral klasik. Ini proyek besar menyelamatkan kemanusiaan. Sebab dua penyakit ini tidak hanya menghapus iman, tapi juga menutup pintu rahmat, menghancurkan harmoni, dan meruntuhkan peradaban.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Kamis 04 Juni 2026
Imsak
04:27
Shubuh
04:37
Dhuhur
11:54
Ashar
15:15
Maghrib
17:48
Isya
19:01
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ اِنَّ الْمَوْتَ الَّذِيْ تَفِرُّوْنَ مِنْهُ فَاِنَّهٗ مُلٰقِيْكُمْ ثُمَّ تُرَدُّوْنَ اِلٰى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ ࣖ
Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)