Maryam binti Imran: Teladan Kesucian dan Keberanian Spiritual
Miftah yusufpati
Rabu, 10 September 2025 - 04:15 WIB
Di tengah perdebatan modern soal posisi perempuan, kisah Maryam memberi perspektif lain. Ia menunjukkan bahwa kesalehan dan keberanian spiritual melampaui batas gender. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Di sebuah sudut Baitul Maqdis, seorang gadis muda duduk khusyuk di mihrabnya. Tangannya terangkat, wajahnya teduh, sementara Zakariya, nabi tua yang mengasuhnya, tertegun melihat ada buah-buahan segar di sisinya. “Hai Maryam, dari mana kamu memperoleh ini?” tanyanya. Maryam menjawab pendek, “Itu dari sisi Allah.” (Ali Imran: 37).
Kisah Maryam binti Imran—sosok perempuan yang disebut paling banyak dalam Al-Qur’an—menjadi simbol pengabdian, ketekunan, sekaligus keberanian spiritual. Namanya bukan hanya abadi di dalam teks suci Islam, tetapi juga dalam tradisi Yahudi dan Kristen. Namun, Al-Qur’an menghadirkan Maryam dengan dimensi berbeda: perempuan saleh yang dipilih, disucikan, dan dijadikan teladan lintas zaman.
Nazar Sejak Kandungan
Al-Qur’an menuturkan, istri Imran menazarkan janin dalam kandungannya untuk berkhidmat di Baitul Maqdis. “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada-Mu anak yang ada dalam kandunganku untuk menjadi hamba yang saleh.” (Ali Imran: 35).
Menurut tafsir Ibn Katsir, keinginan itu dilandasi tradisi Yahudi kuno: anak lelaki dipersembahkan untuk mengabdi di Baitullah. Namun bayi yang lahir perempuan. Sang ibu sempat gamang, tetapi Allah meneguhkan nazar itu dan menerima Maryam sebagai hamba yang akan mengabdi dengan caranya sendiri.
Baca juga: Khusus Isa Putra Maryam: Nabi yang Diangkat Menjadi Rasul di Usia Belia
Imam al-Qurthubi dalam al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an menjelaskan, kisah ini menunjukkan Allah tidak membedakan kualitas pengabdian laki-laki dan perempuan. Dalam hadis sahih riwayat Bukhari-Muslim, Nabi Muhammad menegaskan, “Setiap anak Adam disentuh setan pada hari kelahirannya, kecuali Maryam dan anaknya, Isa.”
Kisah Maryam binti Imran—sosok perempuan yang disebut paling banyak dalam Al-Qur’an—menjadi simbol pengabdian, ketekunan, sekaligus keberanian spiritual. Namanya bukan hanya abadi di dalam teks suci Islam, tetapi juga dalam tradisi Yahudi dan Kristen. Namun, Al-Qur’an menghadirkan Maryam dengan dimensi berbeda: perempuan saleh yang dipilih, disucikan, dan dijadikan teladan lintas zaman.
Nazar Sejak Kandungan
Al-Qur’an menuturkan, istri Imran menazarkan janin dalam kandungannya untuk berkhidmat di Baitul Maqdis. “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada-Mu anak yang ada dalam kandunganku untuk menjadi hamba yang saleh.” (Ali Imran: 35).
Menurut tafsir Ibn Katsir, keinginan itu dilandasi tradisi Yahudi kuno: anak lelaki dipersembahkan untuk mengabdi di Baitullah. Namun bayi yang lahir perempuan. Sang ibu sempat gamang, tetapi Allah meneguhkan nazar itu dan menerima Maryam sebagai hamba yang akan mengabdi dengan caranya sendiri.
Baca juga: Khusus Isa Putra Maryam: Nabi yang Diangkat Menjadi Rasul di Usia Belia
Imam al-Qurthubi dalam al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an menjelaskan, kisah ini menunjukkan Allah tidak membedakan kualitas pengabdian laki-laki dan perempuan. Dalam hadis sahih riwayat Bukhari-Muslim, Nabi Muhammad menegaskan, “Setiap anak Adam disentuh setan pada hari kelahirannya, kecuali Maryam dan anaknya, Isa.”