Teladan Kepemimpinan Balqis, Sang Ratu Bijak dari Negeri Saba’:
Miftah yusufpati
Rabu, 10 September 2025 - 16:00 WIB
Kisah Balqis bermula dari laporan burung hud-hud kepada Nabi Sulaiman. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID- Di bawah langit Yaman kuno, sebuah kerajaan makmur pernah berdiri dengan istana megah dan singgasana yang membuat burung hud-hud tercengang. Negeri itu bernama Saba’, dipimpin seorang ratu yang namanya menyeberangi zaman: Balqis. Al-Qur’an menyinggung kisahnya dalam Surah an-Naml, lengkap dengan detail kepemimpinan, musyawarah, kebijaksanaan, hingga akhirnya ia beriman bersama Nabi Sulaiman.
Kisah Balqis bermula dari laporan burung hud-hud kepada Nabi Sulaiman. “Aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar.” (an-Naml: 23). Tafsir Ibn Katsir menyebut Saba’ sebagai negeri makmur dengan irigasi canggih dari Bendungan Ma’rib. Kemakmuran ini tercatat pula dalam penelitian arkeolog modern, seperti Andrey Korotayev dalam Ancient Yemen (1995), yang menyebut Saba’ sebagai pusat perdagangan rempah dan kemenyan, komoditas mahal dunia kuno.
Al-Tabari dalam Tarikh al-Rusul wa al-Mulukmenggambarkan Balqis sebagai penguasa yang tidak hanya kaya, tetapi juga memiliki singgasana yang dihiasi permata, melambangkan kemegahan dan legitimasi politik.
Saat menerima surat dari Nabi Sulaiman, Balqis tak gegabah. Ia mengumpulkan para pembesar kerajaannya, sebagaimana dikisahkan dalam Surah an-Naml ayat 32: “Hai para pembesar, berilah aku pertimbangan dalam urusanku; aku tidak pernah memutuskan sesuatu persoalan sebelum kamu berada dalam majelisku.”
Baca juga: Kisah Ratu Balqis Bersimpuh: Dari Kemewahan Menuju Ketundukan
Imam al-Qurthubi menafsirkan ayat ini sebagai teladan kepemimpinan yang menghargai syura (musyawarah). Sementara akademisi kontemporer, Reuven Firestone dalam Journeys in Holy Lands(1990), menyebut gaya kepemimpinan Balqis mencerminkan tradisi politik Arab Selatan: raja tidak absolut, melainkan berkonsultasi dengan elit suku.
Balqis menampilkan kecerdasan: ia tahu peperangan hanya membawa kehancuran. “Sesungguhnya raja-raja apabila memasuki suatu negeri, niscaya mereka membinasakannya...” (an-Naml: 34).
Kisah Balqis bermula dari laporan burung hud-hud kepada Nabi Sulaiman. “Aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar.” (an-Naml: 23). Tafsir Ibn Katsir menyebut Saba’ sebagai negeri makmur dengan irigasi canggih dari Bendungan Ma’rib. Kemakmuran ini tercatat pula dalam penelitian arkeolog modern, seperti Andrey Korotayev dalam Ancient Yemen (1995), yang menyebut Saba’ sebagai pusat perdagangan rempah dan kemenyan, komoditas mahal dunia kuno.
Al-Tabari dalam Tarikh al-Rusul wa al-Mulukmenggambarkan Balqis sebagai penguasa yang tidak hanya kaya, tetapi juga memiliki singgasana yang dihiasi permata, melambangkan kemegahan dan legitimasi politik.
Saat menerima surat dari Nabi Sulaiman, Balqis tak gegabah. Ia mengumpulkan para pembesar kerajaannya, sebagaimana dikisahkan dalam Surah an-Naml ayat 32: “Hai para pembesar, berilah aku pertimbangan dalam urusanku; aku tidak pernah memutuskan sesuatu persoalan sebelum kamu berada dalam majelisku.”
Baca juga: Kisah Ratu Balqis Bersimpuh: Dari Kemewahan Menuju Ketundukan
Imam al-Qurthubi menafsirkan ayat ini sebagai teladan kepemimpinan yang menghargai syura (musyawarah). Sementara akademisi kontemporer, Reuven Firestone dalam Journeys in Holy Lands(1990), menyebut gaya kepemimpinan Balqis mencerminkan tradisi politik Arab Selatan: raja tidak absolut, melainkan berkonsultasi dengan elit suku.
Balqis menampilkan kecerdasan: ia tahu peperangan hanya membawa kehancuran. “Sesungguhnya raja-raja apabila memasuki suatu negeri, niscaya mereka membinasakannya...” (an-Naml: 34).