LANGIT7.ID- Di bawah langit Yaman kuno, sebuah kerajaan makmur pernah berdiri dengan istana megah dan singgasana yang membuat burung hud-hud tercengang. Negeri itu bernama Saba’, dipimpin seorang ratu yang namanya menyeberangi zaman: Balqis. Al-Qur’an menyinggung kisahnya dalam Surah an-Naml, lengkap dengan detail kepemimpinan, musyawarah, kebijaksanaan, hingga akhirnya ia beriman bersama Nabi Sulaiman.
Kisah Balqis bermula dari laporan burung hud-hud kepada Nabi Sulaiman. “Aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar.” (an-Naml: 23). Tafsir Ibn Katsir menyebut Saba’ sebagai negeri makmur dengan irigasi canggih dari Bendungan Ma’rib. Kemakmuran ini tercatat pula dalam penelitian arkeolog modern, seperti Andrey Korotayev dalam
Ancient Yemen (1995), yang menyebut Saba’ sebagai pusat perdagangan rempah dan kemenyan, komoditas mahal dunia kuno.
Al-Tabari dalam
Tarikh al-Rusul wa al-Muluk menggambarkan Balqis sebagai penguasa yang tidak hanya kaya, tetapi juga memiliki singgasana yang dihiasi permata, melambangkan kemegahan dan legitimasi politik.
Saat menerima surat dari Nabi Sulaiman, Balqis tak gegabah. Ia mengumpulkan para pembesar kerajaannya, sebagaimana dikisahkan dalam Surah an-Naml ayat 32: “Hai para pembesar, berilah aku pertimbangan dalam urusanku; aku tidak pernah memutuskan sesuatu persoalan sebelum kamu berada dalam majelisku.”
Baca juga: Kisah Ratu Balqis Bersimpuh: Dari Kemewahan Menuju Ketundukan Imam al-Qurthubi menafsirkan ayat ini sebagai teladan kepemimpinan yang menghargai syura (musyawarah). Sementara akademisi kontemporer, Reuven Firestone dalam
Journeys in Holy Lands (1990), menyebut gaya kepemimpinan Balqis mencerminkan tradisi politik Arab Selatan: raja tidak absolut, melainkan berkonsultasi dengan elit suku.
Balqis menampilkan kecerdasan: ia tahu peperangan hanya membawa kehancuran. “Sesungguhnya raja-raja apabila memasuki suatu negeri, niscaya mereka membinasakannya...” (an-Naml: 34).
Diplomasi Hadiah dan Politik BijakBalqis memilih strategi diplomasi: mengirim hadiah. Tafsir al-Razi menilai langkah ini sebagai uji politik, apakah Sulaiman sekadar raja duniawi yang bisa dipuaskan dengan harta, atau nabi dengan misi ilahi. Jawaban Sulaiman tegas: “Apakah patut kamu menolong aku dengan harta? Apa yang diberikan Allah kepadaku lebih baik daripada apa yang diberikan-Nya kepadamu.” (an-Naml: 36).
Peneliti sejarah Timur Dekat, Kenneth A. Kitchen dalam
Documentation for Ancient Arabia (1994), menegaskan strategi Balqis mencerminkan realitas diplomasi kuno. Hadiah bukan sekadar tanda hormat, melainkan alat politik untuk mengukur kekuatan lawan.
Balqis akhirnya datang menghadap Sulaiman. Sebelum itu, ia diuji dengan perubahan singgasananya. “Serupa inikah singgasanamu?” tanya Sulaiman (an-Naml: 42). Balqis menjawab hati-hati: “Seakan-akan singgasana ini singgasanaku.”
Al-Ghazali dalam
Jawahir al-Qur’an menilai jawaban ini menunjukkan kecerdasan retoris: Balqis tidak gegabah, tetapi penuh pertimbangan. Dalam perspektif psikologi kepemimpinan modern, sikapnya mencerminkan gaya
reflective leadership—pemimpin yang berhati-hati membaca situasi sebelum mengambil keputusan.
Baca juga: Perempuan di Zaman Nabi Sulaiman: Antara Takhta, Diplomasi, dan Ketundukan Beriman dengan Rendah HatiPuncak kisah terjadi saat Balqis memasuki istana kaca Sulaiman. Mengira lantai licin itu air, ia menyingkap betisnya. Sulaiman lalu menjelaskan bahwa itu istana kaca. Saat itu Balqis tersadar. “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku, dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan semesta alam.” (an-Naml: 44).
Tafsir Fakhruddin al-Razi menekankan momen ini sebagai simbol transisi spiritual: dari penguasa yang memimpin rakyat penyembah matahari menjadi pemimpin yang tunduk pada Tuhan yang Esa.
Sejarawan Patricia Crone dalam
Pre-Industrial Societies (1989) menyebut kisah Balqis sebagai salah satu contoh paling menarik tentang perempuan penguasa dalam literatur agama. Tidak hanya karena ia seorang ratu, tetapi karena kisahnya menyoroti proses transformatif seorang pemimpin yang mampu meninggalkan keyakinan lama demi kebenaran.
Lebih dari itu, Balqis berdiri unik dalam panorama sejarah: seorang perempuan yang memimpin kerajaan besar, lihai berpolitik, arif bermusyawarah, dan pada akhirnya berserah diri. Bagi kaum Muslim, kisahnya menjadi teladan etika kepemimpinan.
Baca juga: Kisah Rebutan Tahta di Kerajaan Daud, Kakak Nabi Sulaiman Melakukan Kudeta Bagi akademisi, kisahnya adalah titik pertemuan antara sejarah Arab Selatan dan narasi Al-Qur’an. Dalam dua lensa ini, Balqis tetap hidup: bukan sekadar tokoh legendaris, melainkan simbol bahwa kebijaksanaan dan iman dapat bersatu dalam diri seorang pemimpin perempuan.
(mif)