Besok Hari Diturunkannya 320.000 Bala, Berikut Asal Usul Rebo Wekasan
Fajar adhitya
Selasa, 05 Oktober 2021 - 20:35 WIB
Ilustrasi bangunan hancur lebur akibat hempasan angin topan. Foto: Langit7.id/iStock
Muslim Indonesia memiliki tradisi Rebo Wekasan, yakni melaksanakan serangkaian ibadah pada Rabu di akhir Safar. Tahun ini, Rabu Wekasan jatuh esok hari, 6 September 2021 yang bertepatan dengan 29 Shafar 1443 Hijriah.
Rebo Wekasan, dalam tradisi muslim Indonesia merupakan hari yang dikeramatkan karena dianggap sebagaimomentum yang penuh marabahaya. Bahkan, ada pula yang menyebut Rabu terakhir di bulan Safar tersebut dengan nama Rebo Pungkasan dan Rebo Kasan.
Baca Juga:Hukum Percaya Zodiak Haram, Hati-Hati Dianggap Syirik
Kiai Haji (KH) Maimoen Zubair dalam salah satu rekaman ceramahnya yang diunggah PP Al Anwar Sarang mengatakan, sebagian ulama ahli kasyaf mengatakan, pada Rabu Wekasan waktu tumpuan bala dan cobaan. Menurut KH Abdul Hamid Kudus, Ṣafar memiliki kekhasan tersendiri sebagaimana yang ditulisnya dalam kitab Kanz Al-Najaḥ wa Al-Surur. Kitabtersebut sering menjadi rujukan bagi sebagian masyarakat Jawa untuk menyelenggarakan tradisi Rebo Wekasan.
Tradisi Rebo Wekasan pada praktiknya dijalankan dengan beragam ibadah seperti shalat, berdoa, ziarah, mandi dan bersedekah. Keragaman ritual tersebut mempunyai tujuan yang sama, yaitu agar diberikan keselamatan dari segala macam bahaya dan malapetaka.
Baca Juga:Ruh Orang Meninggal Gentayangan 40 Hari? Ini Fakta dalam Islam
Dalam istilah masyarakat Arab, Safar memiliki arti kuning, merujuk pada musim gugur saat pepohonan berwarna kuning. Safar juga berarti kosong atau nol. Dahulu kala, pada bulan tersebut, orang Arab pergi meninggalkan rumah dan harta mereka.
Rebo Wekasan, dalam tradisi muslim Indonesia merupakan hari yang dikeramatkan karena dianggap sebagaimomentum yang penuh marabahaya. Bahkan, ada pula yang menyebut Rabu terakhir di bulan Safar tersebut dengan nama Rebo Pungkasan dan Rebo Kasan.
Baca Juga:Hukum Percaya Zodiak Haram, Hati-Hati Dianggap Syirik
Kiai Haji (KH) Maimoen Zubair dalam salah satu rekaman ceramahnya yang diunggah PP Al Anwar Sarang mengatakan, sebagian ulama ahli kasyaf mengatakan, pada Rabu Wekasan waktu tumpuan bala dan cobaan. Menurut KH Abdul Hamid Kudus, Ṣafar memiliki kekhasan tersendiri sebagaimana yang ditulisnya dalam kitab Kanz Al-Najaḥ wa Al-Surur. Kitabtersebut sering menjadi rujukan bagi sebagian masyarakat Jawa untuk menyelenggarakan tradisi Rebo Wekasan.
Tradisi Rebo Wekasan pada praktiknya dijalankan dengan beragam ibadah seperti shalat, berdoa, ziarah, mandi dan bersedekah. Keragaman ritual tersebut mempunyai tujuan yang sama, yaitu agar diberikan keselamatan dari segala macam bahaya dan malapetaka.
Baca Juga:Ruh Orang Meninggal Gentayangan 40 Hari? Ini Fakta dalam Islam
Dalam istilah masyarakat Arab, Safar memiliki arti kuning, merujuk pada musim gugur saat pepohonan berwarna kuning. Safar juga berarti kosong atau nol. Dahulu kala, pada bulan tersebut, orang Arab pergi meninggalkan rumah dan harta mereka.