Fariduddin ‘Attar: Penyair, Apoteker, dan Pencari Simurgh
Miftah yusufpati
Senin, 15 September 2025 - 16:00 WIB
Warisan puisinya, seperti Mantiq al-Tayr (Musyawarah Burung), melampaui zaman, menjadi salah satu teks paling berpengaruh dalam tradisi tasawuf. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Di antara ratusan penyair Persia klasik, nama Fariduddin ‘Attar (1145–1221) kerap hadir sebagai misteri. Ia bukan hanya pujangga, tapi juga apoteker, pedagang parfum, sekaligus sufi. Hidupnya ditutup secara tragis saat invasi Mongol ke Nishapur, kota kelahirannya. Namun warisan puisinya, seperti Mantiq al-Tayr (Musyawarah Burung), melampaui zaman, menjadi salah satu teks paling berpengaruh dalam tradisi tasawuf.
Dalam karya itu, ‘Attar menyulap fabel burung menjadi alegori pencarian spiritual. Tiga puluh burung (si-murgh) yang menempuh perjalanan penuh rintangan akhirnya menemukan “Simurgh” yang mereka cari, tapi ternyata yang mereka lihat adalah bayangan diri mereka sendiri. “Pesan moralnya jelas,” tulis Annemarie Schimmel dalam Mystical Dimensions of Islam (1975), “bahwa Tuhan hanya bisa ditemukan dengan melampaui ego.”
Nama “Attar” merujuk pada profesinya sebagai penjual obat dan wewangian. Menurut catatan J.T.P. de Bruijn dalam Persian Sufi Poetry (1997), keseharian di toko apotek memberi Attar banyak kisah tentang sakit dan sembuh, hidup dan mati—yang kemudian ia sulap jadi metafora rohani. “Attar memperlakukan jiwa manusia seperti tubuh yang sakit, yang membutuhkan obat mujarab berupa cinta ilahi,” tulis de Bruijn.
Baca juga: Omar Khayyam: Penyair, Ilmuwan, dan Sufi yang Kerap Disalahpahami
Selain Mantiq al-Tayr, Attar menulis Tadhkirat al-Awliya, ensiklopedia biografi para wali sufi. Buku ini bukan sekadar catatan hidup, melainkan cara Attar menghadirkan spiritualitas ke ruang publik. Carl W. Ernst dalam Sufism: An Introduction to the Mystical Tradition of Islam (1997) menyebut karya ini sebagai salah satu sumber utama untuk memahami etos tasawuf abad pertengahan.
Sastrawan besar Jalaluddin Rumi pun mengakui pengaruhnya. “Attar adalah ruh, Sanai matanya. Aku datang setelah keduanya,” tulis Rumi dalam salah satu syairnya (lihat A.J. Arberry, Classical Persian Literature, 1958). Rumi, yang kelak mendunia lewat tarian darwis dan puisi cintanya, justru menempatkan dirinya sebagai pewaris Attar.
Relevansi Hari Ini
Dalam karya itu, ‘Attar menyulap fabel burung menjadi alegori pencarian spiritual. Tiga puluh burung (si-murgh) yang menempuh perjalanan penuh rintangan akhirnya menemukan “Simurgh” yang mereka cari, tapi ternyata yang mereka lihat adalah bayangan diri mereka sendiri. “Pesan moralnya jelas,” tulis Annemarie Schimmel dalam Mystical Dimensions of Islam (1975), “bahwa Tuhan hanya bisa ditemukan dengan melampaui ego.”
Nama “Attar” merujuk pada profesinya sebagai penjual obat dan wewangian. Menurut catatan J.T.P. de Bruijn dalam Persian Sufi Poetry (1997), keseharian di toko apotek memberi Attar banyak kisah tentang sakit dan sembuh, hidup dan mati—yang kemudian ia sulap jadi metafora rohani. “Attar memperlakukan jiwa manusia seperti tubuh yang sakit, yang membutuhkan obat mujarab berupa cinta ilahi,” tulis de Bruijn.
Baca juga: Omar Khayyam: Penyair, Ilmuwan, dan Sufi yang Kerap Disalahpahami
Selain Mantiq al-Tayr, Attar menulis Tadhkirat al-Awliya, ensiklopedia biografi para wali sufi. Buku ini bukan sekadar catatan hidup, melainkan cara Attar menghadirkan spiritualitas ke ruang publik. Carl W. Ernst dalam Sufism: An Introduction to the Mystical Tradition of Islam (1997) menyebut karya ini sebagai salah satu sumber utama untuk memahami etos tasawuf abad pertengahan.
Sastrawan besar Jalaluddin Rumi pun mengakui pengaruhnya. “Attar adalah ruh, Sanai matanya. Aku datang setelah keduanya,” tulis Rumi dalam salah satu syairnya (lihat A.J. Arberry, Classical Persian Literature, 1958). Rumi, yang kelak mendunia lewat tarian darwis dan puisi cintanya, justru menempatkan dirinya sebagai pewaris Attar.
Relevansi Hari Ini