LANGIT7.ID-Di antara ratusan penyair Persia klasik, nama Fariduddin ‘Attar (1145–1221) kerap hadir sebagai misteri. Ia bukan hanya pujangga, tapi juga apoteker, pedagang parfum, sekaligus sufi. Hidupnya ditutup secara tragis saat invasi Mongol ke Nishapur, kota kelahirannya. Namun warisan puisinya, seperti Mantiq al-Tayr (Musyawarah Burung), melampaui zaman, menjadi salah satu teks paling berpengaruh dalam tradisi tasawuf.
Dalam karya itu, ‘Attar menyulap fabel burung menjadi alegori pencarian spiritual. Tiga puluh burung (si-murgh) yang menempuh perjalanan penuh rintangan akhirnya menemukan “Simurgh” yang mereka cari, tapi ternyata yang mereka lihat adalah bayangan diri mereka sendiri. “Pesan moralnya jelas,” tulis Annemarie Schimmel dalam Mystical Dimensions of Islam (1975), “bahwa Tuhan hanya bisa ditemukan dengan melampaui ego.”
Nama “Attar” merujuk pada profesinya sebagai penjual obat dan wewangian. Menurut catatan J.T.P. de Bruijn dalam Persian Sufi Poetry (1997), keseharian di toko apotek memberi Attar banyak kisah tentang sakit dan sembuh, hidup dan mati—yang kemudian ia sulap jadi metafora rohani. “Attar memperlakukan jiwa manusia seperti tubuh yang sakit, yang membutuhkan obat mujarab berupa cinta ilahi,” tulis de Bruijn.
Baca juga: Omar Khayyam: Penyair, Ilmuwan, dan Sufi yang Kerap Disalahpahami Selain Mantiq al-Tayr, Attar menulis Tadhkirat al-Awliya, ensiklopedia biografi para wali sufi. Buku ini bukan sekadar catatan hidup, melainkan cara Attar menghadirkan spiritualitas ke ruang publik. Carl W. Ernst dalam Sufism: An Introduction to the Mystical Tradition of Islam (1997) menyebut karya ini sebagai salah satu sumber utama untuk memahami etos tasawuf abad pertengahan.
Sastrawan besar Jalaluddin Rumi pun mengakui pengaruhnya. “Attar adalah ruh, Sanai matanya. Aku datang setelah keduanya,” tulis Rumi dalam salah satu syairnya (lihat A.J. Arberry, Classical Persian Literature, 1958). Rumi, yang kelak mendunia lewat tarian darwis dan puisi cintanya, justru menempatkan dirinya sebagai pewaris Attar.
Relevansi Hari IniKarya-karya Attar tetap dibaca di berbagai perguruan tinggi, dari Teheran sampai Harvard. Bagi kalangan spiritual kontemporer, Musyawarah Burung dianggap sebagai pelajaran universal tentang krisis identitas modern. Bahwa pencarian jati diri sejatinya adalah perjalanan panjang melawan nafsu, kesombongan, dan rasa putus asa.
Karen Armstrong dalam Islam: A Short History (2000) menulis, teks-teks sufi seperti karya Attar menawarkan “agama empati” di tengah kerasnya politik dan perang. Kisah-kisah burung yang berdebat, gagal, dan bangkit kembali, bisa dibaca sebagai alegori umat manusia yang terombang-ambing di antara kekerasan dan harapan.
Baca juga: Rindu dalam Lantunan Selawat: Maulid Nabi di Majelis Sufi Dari Nishapur ke DuniaLebih dari delapan abad sejak wafatnya, makam Attar di Nishapur masih diziarahi. Ironinya, sosok yang wafat di tangan pasukan Mongol justru dikenang bukan karena pedangnya, melainkan karena kata-katanya. Bagi Attar, dunia adalah pasar, manusia adalah burung, dan cinta adalah obat yang menyembuhkan segalanya.
Seperti ditulis de Bruijn, Attar adalah “penyair yang mengubah penderitaan menjadi jembatan menuju ketuhanan.” Dan mungkin di situlah relevansinya: di dunia yang masih penuh luka, hikayat-hikayat lama masih bisa jadi obat.
(mif)