Siapa Bilang Nabi Muhammad Miskin? Berikut Ini Jumlah Kekayaan Nabi
Miftah yusufpati
Selasa, 16 September 2025 - 05:15 WIB
Siapa bilang Nabi Muhammad miskin? Ia memang hidup sederhana, tapi bukan papa. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID- Narasi populer sering menggambarkan Nabi Muhammad sebagai sosok yang hidup serba kekurangan. Potret itu seakan menegaskan kesalehan datang dari kefakiran. Tapi, jika ditelusuri lebih jauh lewat sumber sejarah, Nabi bukanlah figur miskin. Ia justru tumbuh di tengah aktivitas dagang internasional, menikah dengan saudagar kaya, dan sempat mengelola kekayaan besar yang menopang dakwah Islam.
Muhammad memang lahir yatim di Makkah sekitar tahun 570 M. Namun sejak muda ia dikenal jujur dan dipercaya untuk berdagang. Dalam Muhammad: Man and Prophet(1995), Adil Salahi menulis bahwa reputasi Al-Amin membuat Muhammad dipercaya membawa kafilah dagang milik Khadijah ke Syam. Perjalanan itu membuahkan keuntungan besar, bahkan jauh melebihi pedagang lain.
Keberhasilan itu pula yang membuat Khadijah, seorang janda kaya raya, kemudian menikah dengannya. Sejarawan W. Montgomery Watt dalam Muhammad at Mecca(1953) menyebut, setelah pernikahan, Muhammad ikut mengelola kekayaan Khadijah: tanah, ternak, dan jaringan perdagangan lintas Hijaz–Syam.
Baca juga: Kaya Tanpa Meminta, Perkasa Tanpa Menindas: Berakhlaklah dengan Akhlak Allah
Kekayaan yang Menopang Dakwah
Jumlah harta Nabi memang tidak pernah dicatat dalam angka pasti. Tapi berbagai sumber hadis dan sirah memberi gambaran. Ibn Hisham dalam Sirah Nabawiyahmeriwayatkan, rumah Nabi cukup luas untuk menampung tamu dan keluarga besar. Ia juga memiliki beberapa ekor unta, kuda, dan budak yang dibebaskan secara bertahap.
Menurut Tariq Ramadan dalam In the Footsteps of the Prophet(2007), Muhammad bukan miskin, melainkan hidup sederhana: hartanya lebih banyak digunakan untuk membantu fakir miskin, membiayai perang, dan mendukung para sahabat yang berhijrah.
Muhammad memang lahir yatim di Makkah sekitar tahun 570 M. Namun sejak muda ia dikenal jujur dan dipercaya untuk berdagang. Dalam Muhammad: Man and Prophet(1995), Adil Salahi menulis bahwa reputasi Al-Amin membuat Muhammad dipercaya membawa kafilah dagang milik Khadijah ke Syam. Perjalanan itu membuahkan keuntungan besar, bahkan jauh melebihi pedagang lain.
Keberhasilan itu pula yang membuat Khadijah, seorang janda kaya raya, kemudian menikah dengannya. Sejarawan W. Montgomery Watt dalam Muhammad at Mecca(1953) menyebut, setelah pernikahan, Muhammad ikut mengelola kekayaan Khadijah: tanah, ternak, dan jaringan perdagangan lintas Hijaz–Syam.
Baca juga: Kaya Tanpa Meminta, Perkasa Tanpa Menindas: Berakhlaklah dengan Akhlak Allah
Kekayaan yang Menopang Dakwah
Jumlah harta Nabi memang tidak pernah dicatat dalam angka pasti. Tapi berbagai sumber hadis dan sirah memberi gambaran. Ibn Hisham dalam Sirah Nabawiyahmeriwayatkan, rumah Nabi cukup luas untuk menampung tamu dan keluarga besar. Ia juga memiliki beberapa ekor unta, kuda, dan budak yang dibebaskan secara bertahap.
Menurut Tariq Ramadan dalam In the Footsteps of the Prophet(2007), Muhammad bukan miskin, melainkan hidup sederhana: hartanya lebih banyak digunakan untuk membantu fakir miskin, membiayai perang, dan mendukung para sahabat yang berhijrah.